Pangandaran – Aksi unjuk rasa memperingati 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Pangandaran berakhir ricuh. Demonstrasi yang digelar oleh aliansi Rakyat Pangandaran Menggugat, Senin (2/6/2025), di depan Kantor Bupati, memanas dengan pembakaran ban dan aksi saling dorong antara massa dan aparat keamanan.
Sebagai bentuk kekecewaan, massa menyuarakan delapan tuntutan keras. Mereka menilai Bupati Citra Pitriyami tidak mau mendengar aspirasi warga. Bahkan, menurut para demonstran, kehadiran bupati di lokasi aksi hanya sebentar dan tidak menunjukkan itikad baik untuk berdialog.
BACA JUGA:Â Respon Ojol Tanah Abang soal Aksi Akbar 205: Cape Ikut Demo, Gak Bakal Didenger
“Kami kecewa berat. Bupati tidak mau menerima massa aksi dengan baik. Aspirasi kami dianggap angin lalu. Dalam 7×24 jam, kami akan kembali dengan massa lebih besar,” kata Tian Kadarisman, koordinator lapangan.
Selanjutnya, massa menyampaikan berbagai keluhan yang mencakup evaluasi program kerja 100 hari, keterlambatan honor pegawai, hingga dugaan hegemoni mantan bupati dalam pengambilan keputusan pemerintahan saat ini. Alih-alih mendapat respon positif, warga merasa diabaikan.
Karena tidak ada tanggapan memadai, emosi massa pun meledak. Aksi yang awalnya damai berubah menjadi panas. Ban dibakar di depan pintu gerbang kantor bupati, beberapa massa mencoba menerobos masuk, hingga terjadi aksi dorong-mendorong dengan aparat.






