RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Selama ini, publik mengenal Aurelie Moeremans sebagai sosok yang ceria, berbakat, dan penuh tawa. Namun, lewat karya literasi terbarunya yang bertajuk Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, Aurelie memutuskan untuk meruntuhkan tembok rahasia yang selama ini ia simpan rapat.
Buku ini bukan sekadar memoar biasa, melainkan sebuah pengakuan jujur yang menyesakkan dada tentang masa muda yang “dicuri”.
BACA JUGA: Link Broken Strings Aurelie Moeremans Diserbu Warganet, Ini Deretan Film & Sinetronnya
1. ‘Broken Strings’: Simbol Masa Muda yang Terputus
Judul buku ini, Broken Strings (Dawai yang Patah), seolah menjadi metafora dari hidup Aurelie yang sempat hancur di masa remaja. Lewat tulisan yang puitis namun tajam, ia menceritakan bagaimana ia harus kehilangan masa mudanya karena terjebak dalam situasi yang sangat pahit.
Aurelie tak lagi ragu menyebutkan bahwa ia pernah menjadi korban grooming oleh sosok yang jauh lebih tua darinya. Sebuah tindakan manipulasi psikologis di mana seorang dewasa membangun ikatan emosional dengan anak di bawah umur untuk tujuan eksploitasi.
2. Keberanian Mengungkap Sisi Kelam ‘Grooming’
Dalam bab-bab yang emosional, Aurelie membedah bagaimana proses grooming itu terjadi pada dirinya saat ia masih sangat hijau di industri hiburan. Ia menceritakan:






