RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan publik. Pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, kurs dolar AS tercatat berada di level Rp16.979,00.
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menegaskan bahwa melemahnya rupiah tidak berkaitan dengan isu pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Jiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Ia menepis anggapan bahwa pasar bereaksi negatif terhadap isu tersebut, khususnya terkait kekhawatiran independensi bank sentral.
“Jadi ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana. Wah, orang spekulasi dia akan apa, independensinya hilang. Saya pikir enggak akan begitu. Nanti kalau begitu insaf juga, langsung menguat lagi rupiah,” ujar Purbaya kepada wartawan di Gedung DPR/MPR, Senin (19/1/2026).
BACA JUGA: Viral Penolakan Uang Tunai, BI Tegaskan Rupiah Wajib Diterima di Indonesia
Menurut Purbaya, pergerakan nilai tukar rupiah pada dasarnya sangat ditentukan oleh fundamental ekonomi nasional. Ia optimistis, dengan fondasi ekonomi yang terus dijaga dan pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik, rupiah berpeluang kembali menguat dalam waktu ke depan.
“Karena fondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan. Pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat,” tambahnya.
Sebagai indikator, Purbaya menyoroti capaian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di level 9.133,3. Menurutnya, lonjakan IHSG tersebut mencerminkan masih derasnya aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.
“Rupiah kan tergantung pada fundamental ekonominya. Anda lihat IHSG berapa sekarang? Kalau indeks naik ke situ, pasti ada flow asing masuk. Enggak mungkin domestik sendiri yang bisa mendorong itu ke level seperti itu,” ungkapnya.
Ia menilai, masuknya dana asing akan meningkatkan pasokan dolar di dalam negeri sehingga pada akhirnya mendorong penguatan rupiah. “Tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat karena supply dolar akan bertambah,” ujarnya.






