RUANGBICARA.co.id – Harga bensin di Amerika Serikat mengalami lonjakan signifikan sepanjang Maret 2026. Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mulai menekan harga pangan dan biaya distribusi di berbagai industri ritel.
Berdasarkan data terbaru, harga bensin mendekati kisaran USD 3,90 hingga USD 4,00 per galon atau setara sekitar Rp17.000–Rp18.000 per liter. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan konflik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasokan energi global.
Situs pemantau energi GlobalPetrolPrices.com mencatat bahwa harga rata-rata bensin oktan-95 di Amerika Serikat mencapai sekitar USD 1,08 per liter per 16 Maret 2026. Secara historis, harga bensin di negara tersebut memang fluktuatif, dengan rata-rata USD 0,60 per liter sejak 1991 hingga 2026.
Maka tak heran, pada Februari 2026 lalu, harga bensin tercatat sebesar USD 0,77 per liter, naik dari USD 0,74 per liter pada Januari. Angka ini masih jauh dari rekor tertinggi USD 1,30 per liter pada Juni 2022, namun tren kenaikan kembali menjadi perhatian pelaku industri.
Dampak ke Harga Pangan
Kenaikan ini tentunya mulai dirasakan pengusaha di sektor ritel, terutama dalam distribusi bahan pangan segar. Stew Leonard Jr., Presiden dan CEO Stew Leonard’s, mengungkapkan bahwa bisnis makanan segar sangat sensitif terhadap perubahan biaya logistik.
Dalam wawancara di kanal YouTube Bloomberg Podcasts, ia menjelaskan bahwa lonjakan biaya bahan bakar memicu tambahan biaya distribusi atau fuel surcharge yang kini mulai membebani perusahaan.
“Kami beroperasi dengan margin yang sangat tipis. Ketika biaya seperti bahan bakar naik, kami mencoba menahannya selama mungkin agar tidak langsung membebani konsumen,” ujarnya, dikutip Selasa (24/3/2026).
Leonard menegaskan bahwa pihaknya berusaha “menyerap” kenaikan biaya tersebut, namun tidak bisa dilakukan selamanya karena berpotensi menyebabkan kerugian.






