RUANGBICARA.co.id – Terbentuknya dinasti politik di Banten tidak dapat dipisahkan dari sosok Tubagus Chasan Sochib, ayah dari Ratu Atut Chosiyah.
Lahir pada tahun 1930, Chasan Sochib awalnya dikenal sebagai salah satu jawara Banten yang memulai kariernya sebagai pengawal bisnis beras dan jagung antarpulau Jawa-Sumatera. Dari sana, ia merintis bisnis sebagai penyedia logistik bagi Kodam VI Siliwangi.
Kodam VI Siliwangi membutuhkan tokoh lokal untuk menangkal pengaruh komunis demi menjaga stabilitas politik di Banten. Oleh karena itu, Kodam VI memilih Chasan Sochib dan memberinya posisi istimewa.
BACA JUGA:Â Gerindra Babad Habis Dinasti Politik di Pilkada 2024 se-Banten
Proyek-proyek pemerintah, terutama di bidang konstruksi, banyak diberikan kepadanya. Pada tahun 1967, Chasan Sochib mendirikan PT Sinar Ciomas Raya, yang berkembang menjadi perusahaan konstruksi terbesar di Banten.
Selain sukses dalam bisnis, Chasan Sochib juga berpengaruh besar dalam organisasi masyarakat. Pada tahun 2000, ia menjabat sebagai Ketua Satuan Karya (Satkar) Ulama dan memimpin dua organisasi massa Golkar di Banten.
Selain itu, ia juga memimpin Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten (PPPSBB). Tidak hanya itu, ia memanfaatkan media untuk memperkuat posisi dalam ekonomi dan politik.
Reformasi dan Munculnya Dinasti Politik
Memasuki era reformasi, Chasan Sochib semakin mengukuhkan posisinya dengan menguasai arena politik, ekonomi, sosial, dan budaya di Banten. Ia menjadi tokoh penting dalam mendorong terbentuknya Provinsi Banten, bahkan memberikan dukungan finansial.
Setelah pemekaran, Chasan Sochib menjadi lebih berkuasa dibandingkan pada masa Orde Baru, dengan aktif menentukan siapa yang memegang kekuasaan di Banten.
Perubahan besar terjadi ketika Ratu Atut, putri Chasan Sochib, berhasil menjadi Wakil Gubernur Banten. Langkah ini menjadi awal dari rencana besar untuk melibatkan keluarga besar mereka dalam politik, ekonomi, sosial, dan budaya.






