AGRA Banten Desak Bebaskan Petani dan Hentikan Kriminalisasi

Pandeglang – Raden Deden Fajarullah dari AGRA Banten mengecam penangkapan 3 anggota AGRA dan masyarakat lainnya di Taman Nasional Ujung Kulon (Dayat, Holil, dan Jaji).

Ia menuntut penghentian proses hukum dan pembebasan tanpa syarat bagi petani yang ditangkap.

Pemburu Hama Bukan Kriminal,
“Nganjingan” Bagian Kebudayaan Rakyat

Masyarakat di Taman Nasional Ujung Kulon hidup dengan mengandalkan tanaman yang ditanam dan kebudayaan “nganjingan” (berburu hama babi hutan).

Pemburu hama dianggap bagian dari kebudayaan rakyat untuk melindungi tanaman dari serangan hama.

Ancaman terhadap Konservasi Badak Bercula Satu

Raden menyadari pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dengan tidak memburu Badak bercula satu.

Namun isu-isu tentang pembunuhan dan pencurian badak masih tersebar tanpa penjelasan yang jelas.

Ketidakmampuan Balai Taman Nasional Ujung Kulon Menimbulkan Penangkapan Masyarakat

Balai Taman Nasional Ujung Kulon dituduh tidak bertanggung jawab atas tugasnya.

Terlebih sibuk dengan proyek pembangunan di kawasan TNUK, yang mengakibatkan penangkapan tanpa dasar terhadap masyarakat yang terlibat dalam kebudayaan “nganjingan.”

Penangkapan Tanpa Surat dan Penggunaan Kekuatan Berlebihan

Penangkapan masyarakat dilakukan tanpa surat penangkapan, bahkan dengan kekuatan berlebihan dari lebih dari 150 personel kepolisian, mengakibatkan tudingan penculikan oleh negara.

Tuntutan AGRA Banten

AGRA menuntut menghentikan proses hukum dan membebaskan 3 anggotanya dan masyarakat yang ditahan tanpa alasan yang jelas. Mereka juga menuntut penarikan mundur pasukan Polisi-Brimob dari kampung-kampung desa dan menghentikan tindakan kriminalisasi dan intimidasi terhadap petani dan pemburu hama.

Wujudkan Reforma Agraria Sejati

Raden menyerukan mewujudkan reforma agraria sejati dengan mendistribusikan tanah kepada masyarakat di Taman Nasional Ujung Kulon tanpa syarat. Ia juga, menyerukan kepada seluruh masyarakat di Taman Nasional Ujung Kulon untuk bersatu, melawan tindakan jahat dan curang Taman Nasional Ujung Kulon terhadap masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *