Antara Perbaikan Partai dan Ambisi Pribadi

Maka dengan begitu, apa yang dipertontonkan DPW PPP Banten di bawah kepemimpinan Subadri terasa sangat memalukan. Ketika masa jabatan selesai, yang semestinya dilakukan adalah membuka ruang transisi, bukan mempertahankan kursi dengan berbagai dalih. Padahal, jika ingin maju kembali sebagai Ketua DPW, jalannya jelas dan terhormat: ikut Muswil, berkompetisi secara terbuka, dan serahkan keputusan kepada kader.

Bukan malah berkelahi memperebutkan “tulang” yang nyaris tak ada. Dalam kondisi PPP yang tengah terluka, perebutan posisi tanpa visi pembaruan hanya akan mempercepat kemunduran partai.

Politik, suka atau tidak, menuntut kedewasaan. Ada waktunya memimpin, ada waktunya memberi jalan. Ketika masa telah habis, mempertahankannya justru hanya menambah beban.

BACA JUGA: PPP dan Egoisme Politik Kadernya

Dan jika ada yang benar-benar merusak PPP hari ini, itu bukan instruksi partai—melainkan ambisi pribadi yang menolak tunduk pada aturan main di partai itu sendiri.

 

 

Tertanda,

Kader PPP Muda Akar Rumput

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *