RUANGBICARA.co.id – Kasus penemuan seorang bayi perempuan yang ditinggalkan di dalam gerobak nasi uduk di kawasan Jalan Pejaten Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menyita perhatian publik. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (3/3/2026) sore itu tak hanya memunculkan rasa haru, tetapi juga memicu perbincangan mengenai fenomena psikologis yang dikenal sebagai sibling rivalry.
Bayi yang diperkirakan baru berusia sekitar dua hari itu ditemukan dalam sebuah tas belanja hitam yang diletakkan di dalam gerobak. Saat ditemukan, bayi mengenakan pakaian boneka beruang berwarna biru dan diselimuti selimut putih bermotif kartun.
BACA JUGA: Mengenal Emotional Dysregulation, Sisi Psikologis di Balik Tragedi Mahasiswa UIN Suska Riau
Kapolsek Pasar Minggu, Kompol Anggiat Sinambela, membenarkan adanya penemuan bayi tersebut. Peristiwa bermula ketika seorang warga bernama Dinda Astri (21) mendengar tangisan bayi dari arah depan rumahnya sekitar pukul 17.30 WIB.
“Awalnya saksi Dinda mendengar suara tangisan bayi dari arah gerobak yang berada di depan rumahnya. Setelah dicek, di dalam gerobak tersebut terdapat tas belanja Family Mart warna hitam. Saat diperiksa, di dalam tas tersebut ada seorang bayi perempuan dalam posisi miring memakai pakaian boneka beruang warna biru dan diselimuti selimut bayi,” ujar Anggiat kepada media, Rabu (4/3/2026).
Selain bayi, di dalam tas tersebut juga ditemukan sejumlah perlengkapan bayi seperti susu formula, tisu basah, sarung tangan, serta secarik surat yang menyentuh hati. Surat tersebut diduga ditulis oleh kakak bayi yang masih berusia sekitar 12 tahun.
Isi surat itu menyebutkan permintaan agar sang bayi dirawat dengan baik karena ibu mereka telah meninggal dunia.
Temuan ini pun memancing berbagai spekulasi di media sosial. Sejumlah warganet mengaitkan kejadian tersebut dengan fenomena psikologis bernama sibling rivalry.
Apa Itu Sibling Rivalry?
Dilansir dari pelbagai sumber, dalam dunia psikologi, sibling rivalry merupakan istilah yang merujuk pada kecemburuan, persaingan, atau konflik yang terjadi antara saudara kandung. Fenomena ini umumnya muncul ketika seorang anak harus berbagi perhatian orang tua dengan saudara lainnya, terutama setelah kelahiran adik baru.
Sibling sendiri berarti saudara laki-laki atau perempuan yang hidup dalam satu pengasuhan orang tua yang sama, baik itu saudara kandung, saudara tiri, maupun saudara adopsi.
Pada banyak kasus, anak pertama sering merasa kehilangan perhatian orang tua ketika adik lahir. Sebelum kehadiran adik, anak sulung biasanya merasa menjadi pusat perhatian keluarga. Namun setelah ada bayi baru, perhatian orang tua terbagi sehingga memicu rasa cemburu, khawatir, bahkan takut kehilangan kasih sayang.
Karena itulah, kecemburuan antar saudara ini disebut sebagai sibling rivalry.
Penyebab Sibling Rivalry
Fenomena ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
-
Jarak usia yang dekat antar anak
-
Perbedaan kepribadian
-
Pola asuh orang tua
-
Persaingan mendapatkan perhatian, kasih sayang, atau waktu dari orang tua
-
Perbandingan yang dilakukan orang tua antara anak-anak
Persaingan ini paling sering terjadi ketika anak masih kecil dan biasanya berkurang seiring bertambahnya usia.
Namun jika tidak ditangani dengan baik, konflik antar saudara bisa berkembang menjadi permusuhan yang lebih serius.
Dampak Sibling Rivalry pada Anak
Sibling rivalry dapat memunculkan berbagai dampak perilaku pada anak, di antaranya:
1. Perilaku Regresi
Regresi adalah kondisi ketika anak kembali menunjukkan perilaku seperti bayi, misalnya:
-
Mengisap jari
-
Mengompol
-
Mencari perhatian secara berlebihan
Perilaku ini biasanya dilakukan agar anak kembali mendapatkan perhatian orang tua.






