Konsumen Dirugikan
Akibat peredaran beras oplosan ini, Amran memperkirakan konsumen mengalami kerugian hingga Rp100 triliun per tahun. Angka ini menjadi sinyal bahaya akan dampak serius dari praktik perdagangan curang di sektor pangan.
Tak hanya soal beras, Mentan Amran juga mengungkap adanya peredaran pupuk palsu di lapangan. Banyak petani bahkan mengalami kerugian hingga Rp3,2 triliun akibat menggunakan pupuk palsu yang dibeli dengan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Bayangkan, petani menggunakan KUR, tapi hasil panennya hancur karena pupuk palsu. Ini tega,” ucap Amran dengan nada prihatin.
Untuk mencegah masyarakat semakin dirugikan, Amran menegaskan bahwa pemerintah akan mengumumkan daftar merek-merek beras bermasalah secara bertahap ke publik. Hal ini dilakukan agar masyarakat lebih waspada saat membeli beras di pasaran.
“Kami sudah koordinasi dengan aparat penegak hukum. Kami ingin pertanian Indonesia berjaya dan rakyat tidak dirugikan,” katanya.
Amran optimis bahwa jika masalah pangan seperti beras oplosan dan pupuk palsu dapat diberantas, maka akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan, diperkirakan pertumbuhan bisa meningkat hingga 1%.
“Ini menyangkut 286 juta rakyat Indonesia. Terutama saudara kita di garis kemiskinan. Jangan biarkan mereka dirugikan,” tutupnya.
Tips
-
Periksa label berat dan bandingkan dengan isinya.
-
Beli dari toko atau distributor yang terpercaya.
-
Hindari produk beras tanpa keterangan produsen resmi.
-
Waspadai harga yang terlalu murah dibanding pasaran.
BACA JUGA: Siapa Pengamat yang Disebut Mentan Amran Terlibat Proyek Fiktif hingga Rugikan Negara 5 Miliar?
-
Ikuti informasi resmi dari Kementan terkait daftar merek beras bermasalah.






