Selain itu, Ari menekankan bahwa Gen-Z harus menghindari menjadi buruh politik yang hanya bekerja untuk kepentingan materi.
“Saya menekankan kepada anak muda, jangan mau didikte mengenai pilihan politik. Apalagi dijadikan buruh politik yang hanya menerima uang atau pelaku money politik untuk memilih pemimpin kita,” kata Ari.
Prioritas Gen-Z
Ridwan juga menyampaikan bahwa Gen-Z harus mengedepankan isu lingkungan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial sebagai prioritas utama. Mereka mengharapkan calon pemimpin yang memiliki program konkret untuk mengatasi masalah-masalah ini.
Gen-Z menunjukkan keinginan kuat untuk terlibat dalam proses politik, namun merasa kurang diberi ruang untuk berkontribusi. Mereka menuntut agar pemerintah dan partai politik lebih inklusif dalam melibatkan generasi muda dalam pengambilan keputusan, bukan hanya sebagai pion politik untuk meraup suara.
Dalam sesi tanya jawab, peserta dan narasumber memberikan pandangan mereka tentang pentingnya edukasi politik berkelanjutan bagi generasi muda.
Di akhir diskusi, peserta menuliskan pesan, harapan, dan kritik tentang polarisasi politik saat ini. Salah satu pesan yang menonjol adalah
“Agar ongkos politik murah hindari money politik mulai dari diri sendiri dan keluarga.”
Harapan
Diskusi ini diharapkan menjadi wadah bagi Gen-Z untuk menyuarakan aspirasi dan harapan mereka, serta memberikan wawasan bagi para calon pemimpin dalam menyusun strategi kampanye yang lebih relevan dan efektif.
BACA JUGA:Â Tak Ingin Calon Tunggal, Porpoliz Beberkan Pesaing Kuat di Pilkada Lebak
Dengan demikian, partisipasi aktif Gen-Z diharapkan memberikan dampak positif bagi perkembangan demokrasi di Indonesia, terutama di Banten dan Lebak.






