Jakarta – Pada hari ketiga gelaran Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2025, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menyoroti pentingnya keadilan gender dalam transisi menuju energi bersih. Ia menekankan peran perempuan, khususnya dalam pengembangan energi hidrogen.
Dalam sambutannya, Arifatul menyebut hidrogen sebagai solusi energi yang menjanjikan. Energi ini dapat digunakan di berbagai sektor, mulai dari industri lokal, transportasi, hingga rumah tangga.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa transformasi energi harus melibatkan semua pihak, termasuk perempuan.
BACA JUGA: GHES 2025 Buka Mata Robertus Tentang Masa Depan Energi
Lebih lanjut, Arifatul mengkritik posisi perempuan yang sering hanya dijadikan objek dalam isu energi. Padahal, perempuan merupakan pengguna utama energi di rumah tangga. Mereka juga berperan sebagai pendidik generasi penerus dan kelompok yang rentan saat krisis energi terjadi.
“Perempuan ditempatkan selalu terpinggir di isu energi. Padahal perempuan adalah pengguna utama di tingkat rumah tangga, kemudian pendidik, dan rentan menjadi korban jika ada krisis energi,” tegasnya disambut tepuk tangan para audiens, Kamis (17/4/2025).






