Bukan Kompetisi Biasa
Ada yang bilang ini lomba. Tapi sejatinya, ini perburuan mahkota bagi mereka yang lihai menata kata, jeli membaca tanda, dan sabar menelisik fakta. Batas pengumpulan karya hingga 31 Oktober 2025 pukul 23:59 WIB dengan tenggat waktu yang seolah menantang jurnalis agar tak sekadar mengejar ‘deadline’, tapi juga kualitas dan makna.
Para peserta wajib mengirimkan karya orisinal, bukan saduran, bukan copy-paste, dan tentu bukan hasil rekayasa imajinasi. Media tempat publikasi harus terverifikasi Dewan Pers. Tambahan poin bahkan menanti bagi mereka yang bisa menunjukkan sertifikat uji kompetensi. Lengkap dengan lampiran KTP dan Kartu Pers sebagai bukti bahwa ini bukan urusan abal-abal.
Jangan kira hanya jurnalis ibukota yang bisa unjuk gigi. AJP 2025 membuka lebar-lebar partisipasi dari seluruh pelosok Indonesia. Pembagian teritorial dilakukan agar semangat kompetisi merata, dari Sabang hingga Merauke, dari kantor redaksi kecil hingga newsroom yang gemerlap.
Sejak diubah menjadi Perseroan Terbatas pada 2003, Pertamina memang lebih terbuka pada publik. AJP adalah wujud keterbukaan itu. Dia memberikan panggung pada jurnalis yang tak sekadar melaporkan, tetapi juga menginspirasi. Yang tak sekadar menulis, tapi menggugah kesadaran bahwa energi adalah milik bersama — dan harus dijaga bersama.
Maka, hai jurnalis tanah air, siapkan naskah terbaikmu. Waktu berlari, deadline menanti, dan sejarah menulis dirinya lewat pena-pena yang tajam dan nurani yang terang. Anugerah Jurnalistik Pertamina 2025 bukanlah pesta biasa. Ia adalah upacara intelektual, arena di mana ide-ide berpijar, dan kata-kata menyala menjadi bara perubahan.
Dan di tengah riuhnya dunia maya yang penuh kabar burung dan hoaks, barangkali inilah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa jurnalisme masih punya taring. Bukan sekadar mencatat, tetapi juga menggerakkan.
BACA JUGA:Â Profil Dwi Soetjipto, Eks Dirut Pertamina dan Kepala SKK Migas yang Diperiksa KPK Kasus Jual Beli Gas PGN
Siapa tahu, mahkota itu milikmu.






