“Saya senang sekali bisa bertemu dengan para kepala daerah. Saya lahir di Magelang pada 1930, kini sudah berusia lebih dari 90 tahun. Walau berdarah Tiongkok, orang Indonesialah yang membesarkan saya. Karena itu, saya punya misi untuk merekatkan Tiongkok dan Indonesia,” tutur Prof. Chan, yang langsung mendapat sambutan hangat dari peserta.
Di balik kisah pribadinya yang menyentuh, Prof. Chan menegaskan dukungan penuh untuk modernisasi sektor pertanian Indonesia.
“Kami menyambut baik banyak daerah di Indonesia yang ingin memodernisasi sektor agriculture-nya. Kami siap memperkuatnya dengan pengalaman dan teknologi yang kami miliki,” ungkapnya.
Sebagai informasi, pertemuan strategis ini juga dihadiri sejumlah bupati yang menjadi motor penggerak pembangunan di daerahnya, antara lain Bupati Minahasa Utara Joune Ganda, Bupati Bandung Dadang Supriatna, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, Bupati Sambas Satono, Bupati Serang Ratu Rachmatu Zakiyah, serta Sekda Kepulauan Seribu Tri Indra.
Mereka turut didampingi Direktur Eksekutif Apkasi Sarman Simanjorang dan Tony Aditya selaku inisiator pertemuan bilateral ini.
Pertemuan antara Apkasi dan IASTIC ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan langkah nyata untuk mentransformasi potensi ekonomi lokal menjadi kekuatan nasional. Sinergi antara teknologi Tiongkok dan sumber daya Indonesia diyakini akan membawa angin segar bagi pembangunan berkeadilan, terutama di sektor pertanian, energi terbarukan, dan pengelolaan lingkungan.
BACA JUGA: Resmi Dilantik! Apkasi Gagas Konsorsium Dana Abadi Rp12 Triliun untuk Perkuat Fiskal Daerah
Dengan semangat kolaborasi dan keterbukaan, para bupati se-Indonesia kini menapaki jalan baru menuju masa depan yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan. Sebab itu, pertemuan ini menandai tonggak penting bagi diplomasi ekonomi daerah dan menjadi bukti bahwa Indonesia siap melangkah sejajar di panggung inovasi global.






