RUANGBICARA.co.id – Duo musik elektronik asal Jerman, Super Flu, menjadi bukti bahwa konsistensi, harmoni, dan kebebasan berekspresi mampu membawa musisi dari klub legendaris hingga panggung dunia. Berawal dari kecintaan pada musik elektronik era 90-an, Super Flu kini dikenal sebagai produser, DJ, sekaligus pemilik label yang berpengaruh.
Berdasarkan liputan mendalam Progressive Astronaut tentang Super Flu yang dilengkapi dengan wawancara dan podcast yang diunggah pada 17 Agustus 2018.
Super Flu, pada awalnya, terinspirasi dari budaya musik elektronik Jerman di era 1990-an. Beberapa set legendaris Sven Väth yang direkam di klub ikonik seperti Omen dan acara Hessentage menjadi bagian penting dari perjalanan musikal mereka.
Meski begitu, Super Flu menegaskan bahwa inspirasi hanyalah pijakan awal. Seiring waktu, mereka memilih untuk terus berkembang dan menemukan karakter musik sendiri tanpa terjebak pada gaya masa lalu.
Musik yang Beragam
Menariknya, kedua personel Super Flu memiliki latar belakang musik yang berbeda. Mathias tumbuh dengan budaya breakdance dan hip hop, terpengaruh oleh nama besar seperti Grandmaster Flash. Sementara itu, Feliks memiliki pengalaman bernyanyi di paduan suara dan menguasai teori musik, termasuk membaca partitur.
Selain itu, Feliks juga mahir memainkan gitar dan piano. Di sisi lain, Mathias dikenal dengan kemampuannya memainkan harp serta alat musik elektronik unik. Perbedaan latar belakang ini menjadi kekuatan utama dalam membangun warna khas Super Flu.
Perkenalan pertama Super Flu dengan musik elektronik terjadi di Distillery Leipzig, salah satu klub tertua di Jerman yang masih aktif hingga kini. Meski kenangan awal mereka sedikit samar, pengalaman di klub tersebut diyakini menjadi fondasi kuat dalam perjalanan karier mereka.
Bahkan hingga saat ini, Super Flu masih rutin kembali ke Distillery untuk menggelar Monaberry Label Night, sebuah bentuk penghormatan pada akar musikal mereka.
Dalam menjaga kerja sama, Super Flu mengedepankan satu prinsip utama, yakni harmoni. Keseimbangan peran, kompromi, dan komunikasi menjadi kunci agar kolaborasi tetap berjalan sehat.
Di studio, proses kreatif mereka berlangsung santai namun terstruktur. Satu orang menyiapkan peralatan, sementara yang lain membuat kopi. Setelah itu, mereka duduk bersama dan mulai bekerja, sebuah rutinitas sederhana yang mencerminkan dinamika kerja Super Flu.






