FB dan IG Didominasi Dukungan
Berbeda dengan X, Facebook menampilkan dukungan emosional yang lebih kuat. Sentimen positif mencapai lebih dari 70 persen. Pengguna Facebook mengekspresikan kebanggaan atas capaian Mens Rea dan melihatnya sebagai bentuk pendidikan politik informal.
“Facebook menjadi ruang validasi kolektif. Kritik seperti ini dianggap wajar dan perlu dalam demokrasi,” jelas Ismail.
Sementara itu, di Instagram, percakapan lebih berfokus pada simbol keberhasilan. Mens Rea diposisikan sebagai fenomena budaya populer, dengan potongan video stand-up dan status nomor satu Netflix sebagai narasi utama.
YouTube dan TikTok
YouTube menjadi ruang pendalaman makna. Publik tidak hanya bereaksi, tetapi juga mencoba memahami konteks kritik politik Pandji secara lebih utuh.
“YouTube berfungsi sebagai ruang rekonstruksi makna—memilah mana satire, mana fakta, dan mana provokasi,” kata Ismail Fahmi.
Sebaliknya, TikTok cenderung mengedepankan viralitas dan emosi instan. Sentimen positif tetap dominan, tetapi lebih rendah dibanding platform lain.
“Di TikTok, konteks sering tereduksi. Akibatnya, kontroversi lebih mudah membesar,” tambahnya.
Emosi Publik
Analisis emosi Drone Emprit menunjukkan spektrum yang kompleks. Ada tawa, kejutan, dan kebanggaan, tetapi juga kecemasan dan harapan. Isu dugaan kriminalisasi dan cerita soal “intel” di lokasi pertunjukan memperluas diskusi ke ranah kebebasan berekspresi.
“Di titik ini, Mens Rea berhenti menjadi soal lucu atau tidak lucu. Ia berubah menjadi ujian publik tentang sejauh mana kritik terhadap negara boleh disampaikan,” tegas Ismail Fahmi.
Menurut Ismail Fahmi, seluruh dinamika ini menunjukkan bahwa komedi bisa menjadi indikator kesehatan demokrasi.
“Bukan karena semua orang setuju, tetapi karena publik masih mau berdebat—tentang etika, kekuasaan, dan batas kebebasan,” ujarnya.
BACA JUGA: Profil & Rekam Jejak Rizki Abdul Rahman Wahid, Pelapor yang Polisikan Komika Pandji Pragiwaksono
Ia menilai, perbedaan sentimen antarplatform dan munculnya narasi tandingan justru menegaskan bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar selera humor, melainkan ruang kritik itu sendiri.
Dan dari seluruh data tersebut, muncul satu pertanyaan besar: mengapa sebuah pertunjukan komedi bisa membuat begitu banyak pihak merasa perlu bereaksi, membantah, bahkan mengingatkan soal hukum?






