Etika dan Tata Cara Debat dalam Islam

RUANGBICARA.co.idDebat dalam Islam, dikenal sebagai ‘ilmu al-Jadal wa al-Munaazhoroh’ dalam bahasa Arab, memiliki dasar legitimasi dari Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Hud ayat 32. Pentingnya ilmu debat dalam Islam terletak pada upaya mencapai kebenaran, karena debat yang tidak berlandaskan kebenaran justru dapat memunculkan kebatilan.

Tata Cara Debat dalam Islam:
1. Kedua Pihak yang Setara

Debat dilakukan oleh dua pihak yang setara secara keilmuan. Kedua pihak harus memenuhi asas-asas ilmiah dalam menyampaikan argumentasi mereka.

2. Al-Mu’taridh dan Al-Mustadill

Pihak pertama disebut al-Mu’taridh, yang menyodorkan argumen penyangkalan dan pertanyaan yang dapat merontokkan argumen lawan. Pihak kedua disebut al-Mustadill, yang mempresentasikan ide dan argumentasinya serta menjawab penyangkalan dan pertanyaan.

Baca juga: Keistimewaan Wanita dalam Islam

3. Suasana Debat

Suasana debat haruslah berupa upaya untuk membenarkan atau menguatkan statemennya sendiri sambil merontokkan statemen lawannya.

4. Ranah Debat

Debat dapat dilakukan dalam ranah Teologis (tauhid) maupun Syariah-Fiqh.

5. Standar Ilmiah

Debat harus mengikuti standar ilmiah, benar-benar untuk memperluas pemahaman ilmu dan memastikan kejelasan antara yang benar dan yang salah, mana yang konsisten dan mana yang ngawur.

6. Menghindari Debat Kusir

Debat tidak boleh menjadi debat kusir tanpa arah yang jelas, seperti mencari ketiak ular tanpa hasil yang memuaskan.

Merumuskan Tata Cara Debat yang Jelas:
1. Menentukan Pihak

Tata cara debat harus memastikan siapa yang mendakwa (mudda’iy) dan siapa yang terdakwa (mudda’a ‘alaih).

2. Membedakan Obyek

Penting untuk membedakan antara obyek atau fakta yang realistis dan asumsi atau halusinasi semata.

3. Membedakan Hal Argumentatif dan Subyektif

Debat harus membedakan antara hal argumentatif-inspiratif (munazhoroh) dan hal subyektif-narsis serta sombong (mukabarah).

Dengan mengikuti tata cara debat dalam Islam yang baik, diharapkan bahwa proses debat tidak hanya menjadi sarana untuk mencari kebenaran, tetapi juga untuk memperdamaikan perbedaan pendapat dalam semangat ilmiah dan keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *