Fenomena Rojali Jadi Sorotan, BPS Sebut Sinyal Tekanan Ekonomi Rumah Tangga

RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Belakangan ini, fenomena “Rojali” atau “rombongan jarang beli” menjadi perbincangan hangat di media sosial. Istilah ini menggambarkan kelompok masyarakat yang datang ke pusat perbelanjaan, namun tidak melakukan pembelian yang berarti.

Di berbagai platform media sosial, muncul beragam pendapat soal Rojali. Sebagian warganet menyebut fenomena ini sebagai bentuk “healing murah meriah”. Namun, ada pula yang menilainya sebagai tanda menurunnya daya beli masyarakat.

“Rojali itu bukan pelit, tapi realistis. Gaji pas-pasan, yang penting anak bisa main di mal dan makan es krim,” tulis akun @dianika_91 di X (Twitter).

BACA JUGA: Untirta Sambut Positif Perhelatan Pameran Keterbukaan Informasi Publik 2025

“Kita datang rombongan ke mal cuma foto-foto, numpang AC, lalu pulang. Itu sudah cukup bahagia,” cuit akun @irfan_bukanbos.

Selanjutnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melihat tren ini sebagai gejala sosial yang patut dicermati. Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, mengatakan bahwa meskipun belum tentu mencerminkan kemiskinan, fenomena Rojali bisa menandakan tekanan ekonomi yang dirasakan kelompok rentan.

“Fenomena Rojali memang belum tentu mencerminkan tentang kemiskinan, tetapi relevan juga sebagai gejala sosial. Bisa jadi ini merupakan cara mereka untuk refreshing, atau justru karena tekanan ekonomi,” ujarnya dalam konferensi pers, Minggu (27/7/2025).

Lebih lanjut, Ateng menjelaskan bahwa data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menunjukkan adanya penurunan konsumsi dari kelompok masyarakat atas. Meski belum ada data pasti soal latar belakang pelaku Rojali, namun hal ini menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumsi di berbagai lapisan masyarakat.

“Kelompok atas memang agak menahan konsumsi. Ini kita amati dari Susenas,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *