Film Nostalgia: Jack Black Ubah Teror Anaconda Menjadi Komedi Meta yang Gila

RUANGBICARA.co.id – Alih-alih menjadi remake langsung, Anaconda versi 2025 garapan sutradara Tom Gormican (The Unbearable Weight of Massive Talent) mengambil pendekatan unik. Cerita berfokus pada sekelompok sahabat masa kecil yang tengah dilanda krisis paruh baya.

Doug (Jack Black), seorang videografer pernikahan yang merasa hidupnya stagnan, diajak oleh sahabatnya, Griff (Paul Rudd), seorang aktor figuran yang haus pengakuan, untuk pergi ke hutan Amazon. Rencana mereka sederhana namun nekat, yakni membuat ulang film favorit mereka, Anaconda, secara independen dengan dana seadanya.

BACA JUGA: Jumlah Penonton Masih Kalah, Bisakah ‘Agak Laen: Menyala Pantiku!’ Salip Jumbo dan KKN di Desa Penari?

Namun, setiba di hutan Brasil, “ular mainan” yang mereka bawa justru rusak. Dalam upaya mencari pengganti, mereka malah terjebak dalam pusaran konflik nyata dengan penambang emas ilegal dan, tentu saja, seekor anaconda raksasa yang tidak memiliki selera humor sama sekali.

Yang membuat film ini unik adalah elemen meta-fiction-nya. Di tengah hutan, kru amatir Doug dan Griff bertemu dengan kru film besar dari Sony Pictures yang juga tengah melakukan proses syuting sekuel resmi Anaconda.

Dialog-dialognya tajam dalam menyindir industri perfilman modern yang terobsesi dengan reboot dan remake. Film ini seolah bertanya, “Mengapa kita harus membuat ulang film ini?” sambil secara bersamaan memperlihatkan betapa kacaunya proses pembuatan film di medan yang ekstrem.

Chemistry antara Jack Black dan Paul Rudd menjadi nyawa dari film ini. Jack Black tampil dengan energi meledak-ledak khasnya, memerankan sutradara “visioner” yang sedikit delusional. Sementara itu, Paul Rudd memberikan keseimbangan lewat karakter yang optimistis, namun sering kali sial.

Penonton juga akan disuguhi penampilan singkat namun berkesan dari Jennifer Lopez dan Ice Cube, yang seakan memberikan restu—atau mungkin ejekan—bagi generasi baru ini.

Secara visual, Anaconda yang tayang sejak 24 Desember 2025 ini tetap menggunakan CGI. Menurut sejumlah kritikus, efek visual tersebut sengaja dibuat sedikit “berlebihan” untuk menghormati nuansa campy—aneh tapi seru—dari film aslinya.

“Ini bukan film horor murni. Ini adalah surat cinta bagi para pembuat film amatir dan siapa saja yang pernah bermimpi besar meski tidak memiliki bakat yang cukup.”

Sejumlah kelebihan film ini antara lain humor yang segar dan cerdas, serta aksi yang mendebarkan namun tetap ringan. Penampilan Steve Zahn dan Thandiwe Newton sebagai anggota kru juga memberikan warna tersendiri.

Meski begitu, film ini tak luput dari kekurangan. Bagi penggemar horor murni, elemen komedi yang terlalu dominan mungkin terasa mengurangi rasa takut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *