-
Gerhana Matahari Total
Bulan menutupi seluruh piringan matahari sehingga cahaya hilang sesaat. Pada momen ini, bagian luar matahari yang disebut korona akan terlihat jelas. -
Gerhana Matahari Cincin
Bulan berada di posisi lebih jauh dari bumi sehingga ukurannya tampak lebih kecil. Alhasil, piringan matahari terlihat seperti cincin terang yang melingkari bulan. -
Gerhana Matahari Parsial
Seperti yang akan terjadi 21-22 September nanti, hanya sebagian matahari yang tertutup bulan. Cahaya matahari tetap terlihat, meski tidak sepenuhnya bulat. -
Gerhana Matahari Hibrida
Jenis ini sangat langka karena di beberapa wilayah terlihat sebagai gerhana total, sementara di wilayah lain tampak sebagai gerhana cincin.
Dalam sejarah, gerhana sering dianggap sebagai pertanda atau firasat. Namun kini, masyarakat lebih melihatnya sebagai keindahan kosmik sekaligus bahan penelitian ilmiah. Bahkan, peristiwa gerhana pernah digunakan untuk membuktikan teori relativitas umum Albert Einstein pada 1919.
BACA JUGA:Â Tak Sekadar Fenomena Alam, Inilah Amalan yang Bisa Dikerjakan Saat Gerhana Bulan Total
Meski tidak bisa disaksikan langsung dari Indonesia, gerhana matahari parsial kali ini tetap menjadi momen penting untuk menambah pengetahuan tentang keajaiban langit. Jadi, apakah Sobat sudah siap menyambut cerita baru dari semesta?






