Indonesia Mau Impor Kedelai dari AS Gara-gara Tarif Trump, Swasembada Terancam? Ini Kata Airlangga

Jakarta – Pemerintah Indonesia terus melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) terkait tarif impor yang tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, Indonesia terkena tarif hingga 47% untuk produk tekstil dan garmen akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump sejak 2 April 2025 lalu.

Dalam pertemuan dengan US Trade Representative dan US Secretary of Commerce, Airlangga menegaskan pentingnya kerja sama perdagangan yang adil dan seimbang. Saat ini, Indonesia menikmati surplus perdagangan dengan AS, mencapai US$3,14 miliar hanya dalam dua bulan pertama 2025.

BACA JUGA: Bahlil Jawab Enteng Tarif Trump: Biasa, Strategi Dagang Saja

Namun, AS meminta neraca dagang yang lebih seimbang. Indonesia pun menawarkan sejumlah konsesi, termasuk peningkatan impor dari AS seperti energi, pangan, hingga barang modal.

Sebagai bagian dari negosiasi, Indonesia siap mengimpor pangan dari AS, termasuk kedelai dan gandum. Namun, Airlangga menegaskan langkah ini tidak akan mengganggu program swasembada pangan nasional.

“Kita tidak akan mengganggu program swasembada. Kita hanya mengalihkan sumber impor pangan dari negara lain ke AS,” kata Airlangga dalam konferensi pers, Jumat (18/4/2025).

Selain itu, Indonesia juga meminta agar produk ekspor unggulan seperti tekstil dan garmen mendapatkan tarif yang lebih rendah. Airlangga menyebut, beban tarif saat ini sangat tinggi, mencapai 47%, dan lebih berat dibandingkan negara pesaing.

“Kalau AS meminta tarif berimbang, maka produk unggulan kita juga harus dapat perlakuan tarif yang seimbang,” ujarnya.

Meski belum ada kesepakatan final, Indonesia dan AS sepakat membentuk kerangka acuan negosiasi. Diharapkan dalam waktu 60 hari ke depan, kesepakatan bisa dicapai dan dituangkan dalam bentuk perjanjian resmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *