RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Sosok Florencia Lolita Wibisono, pramugari senior yang menjadi korban dalam insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, masih menyisakan duka mendalam. Selain dikenal sebagai awak kabin berpengalaman, banyak publik yang kini mencari tahu latar belakang dan agama Florencia Lolita Wibisono.
Berdasarkan prosesi pemakaman dan unggahan keluarga di media sosial, Florencia Lolita Wibisono diketahui beragama Katolik. Hal ini terlihat dari rangkaian doa serta ibadah Katolik yang dilakukan saat jenazah tiba di Rumah Duka Grand Heaven, Jakarta.
Dalam unggahan Facebook kerabatnya, Mutiara Gratia Gabriela Poluan, tampak jenazah Florencia atau yang akrab disapa Olen berada di tengah prosesi doa Katolik.
BACA JUGA: Ini Penyebab Kecelakaan Maut yang Tewaskan Diogo Jota dan Adiknya di Tol A-52 Zamora
“Puji Tuhan, bisa diberi kesempatan datang berdoa dengan puji-pujian bersama rekan-rekan yang hadir sebelum Sister Olen ke Tondano. Torang samua doakan Sister Olen, bahagia di surga, terbang tinggi, dan doa-doa akan tetap menyertai torang yang masih berziarah,” tulisnya, dikutip Jumat (23/1/2026).
Jenazah Florencia Lolita Wibisono tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, sebelum dibawa ke Rumah Duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara. Di tempat tersebut, keluarga dan rekan-rekan memberikan penghormatan terakhir sebelum proses pemakaman dilakukan.
Florencia (33) sendiri diketahui merupakan salah satu korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat tersebut diketahui tengah menjalankan penerbangan rute Yogyakarta–Makassar yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pramugari Senior
Florencia Lolita Wibisono dikenal sebagai pramugari senior dengan pengalaman panjang di dunia penerbangan. Alumni Universitas Pelita Harapan (UPH) jurusan Ilmu Komunikasi ini memulai kariernya sebagai pramugari sejak 2012 di PT Wings Abadi Airlines.
Dengan pengalaman lebih dari 13 hingga 14 tahun, Olen memiliki keahlian di bidang pelayanan penumpang, komunikasi lintas budaya, serta prosedur keselamatan dan pertolongan pertama. Ia juga dipercaya sebagai Flight Attendant Company Checker Instructor dan sempat menjabat sebagai Manager Training Flight Attendant.
“Keandalannya di udara membuat Olen dipercaya menjadi trainer. Ia seperti pembina bagi pramugari junior,” ujar Ramos, salah satu anggota keluarga.
Sekitar tiga bulan terakhir sebelum kecelakaan, Florencia bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport.
Di mata keluarga, kepergian Florencia menjadi duka yang semakin berat lantaran ia disebut tengah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. Florencia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dan berasal dari Kendis, Tondano Timur, Kabupaten Minahasa.
“Iya, dia memang akan segera menikah. Kami semua sudah menantikan momen bahagia itu,” ujar Juita, kerabat korban.
Calon pasangan Florencia diketahui juga berprofesi sebagai pilot di salah satu maskapai penerbangan.






