RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan sejumlah langkah untuk meminimalkan praktik manipulasi harga saham di pasar modal, salah satunya dengan meningkatkan porsi saham publik (free float) menjadi minimal 15 persen. Kebijakan ini dinilai mampu memperkuat mekanisme pembentukan harga yang lebih wajar serta mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa semakin besar jumlah saham yang beredar di publik, semakin kecil peluang pihak tertentu untuk menggerakkan harga saham secara tidak wajar. Menurutnya, peningkatan free float akan membuat upaya manipulasi menjadi lebih sulit dilakukan.
BACA JUGA: IHSG Melonjak 1,60% ke 8.261, Ini Saham Top Gainers
“Semakin besar free float, tentu upaya manipulasi akan menjadi lebih sulit. Bayangkan saja, memanipulasi free float 10 dibandingkan dengan free float 1.000, tingkat kesulitannya jelas berbeda,” ujar Jeffrey kepada wartawan, Kamis (12/2/2026).
Selain mendorong peningkatan free float, BEI juga memperkuat transparansi serta kualitas keterbukaan informasi dari emiten. Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan mekanisme harga yang lebih sehat, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
“Kami berharap berbagai upaya manipulasi pasar dapat ditekan,” katanya.






