Jejak Kontroversial Wapres ke-6 RI Try Sutrisno, dari Tanjung Priok hingga Istana Negara

Transisi Reformasi 1998

Menjelang krisis 1998, nama Try Sutrisno sempat disebut-sebut juga sebagai kandidat potensial pengganti Soeharto. Dengan latar belakang militer yang kuat dan kedekatan dengan kalangan Islam, ia dinilai memiliki basis dukungan luas.

Namun dalam Sidang Umum MPR 1998, Soeharto memilih B. J. Habibie sebagai Wakil Presiden. Tak lama kemudian, krisis moneter dan gelombang reformasi mengguncang Indonesia, yang berujung pada lengsernya Soeharto pada Mei 1998.

Hingga pada malam-malam terakhir sebelum pengunduran diri Soeharto, Try bersama sejumlah tokoh senior mendatangi kediaman Presiden untuk membahas opsi politik yang tersedia.

Kiprah Pasca-Kekuasaan

Setelah tak lagi menjabat Wakil Presiden, Try Sutrisno aktif di organisasi purnawirawan TNI, termasuk menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) periode 1998–2003.

Ia juga terlibat dalam dinamika politik nasional, termasuk mengkritik kebijakan pemerintah pasca-Reformasi, sebelum kemudian mengambil sikap lebih moderat.

Nah, dengan demikian Try Sutrisno adalah figur dengan jejak sejarah yang kompleks. Di satu sisi, ia dikenal sebagai prajurit yang meniti karier dari bawah hingga menjadi Panglima ABRI dan Wakil Presiden. Di sisi lain, sejumlah peristiwa seperti Tanjung Priok dan Insiden Dili terus menjadi bagian dari diskursus hak asasi manusia di Indonesia.

BACA JUGA: Jokowi Tidak Bersalaman dengan Try Sutrisno, Begini Kata Istana

Kepergiannya pada 2 Maret 2026 menutup satu bab penting dalam sejarah militer dan politik Indonesia. Sosoknya akan selalu dikenang—baik sebagai pemimpin militer, negarawan, maupun figur yang tak lepas dari kontroversi dalam perjalanan bangsa.