Jihad Santri Jayakan Negeri, Literasi Memperkokoh Santri

Oleh: Andre Saputra Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama

Signifikansi Literasi Media

Kondisi literasi nasional Ditjen Dukcapil Kementrian Dalam Negeri RI, data penduduk Indonesia per semester 1 tahun 2023 adalah 270,20 jiwa.

Sementara ketersediaan buku mencapai 22,318,083 eksemplar (kajian indeks Pembangunan literasi Masyarakat tahun 2023, Perpusnas RI), data ini menunjukan bahwa rasio ketersediaan bahan bacaan adalah 0,09 atau 1 buku untuk 12 orang.

Literasi sendiri merupakan keterampilan wajib yang harus dimiliki generasi penerus di era global dan modern. Mengacu pada World Economic Forum 2023, cakupan literasi meliputi sains, digital, finansial, budaya dan kewarganegaraan, baca dan tulis, numerasi dan sains.

Terdapat empat tingkatan literasi yaitu kemampuan mengumpulkan sumber bahan bacaan, kemampuan memahami apa yang tersirat dari yang tersurat, kemampuan mengungkapkan ide dan gagasan yang baru, teori buku dan kreativitas serat inovasi yang baru.

Pendidikan literasi media pada hakikatnya adalah proses pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam menggunakan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang ditemukan dalam menggunakan media.

Hal ini penting untuk membantu individu menjadi konsumen media yang cerdas dan kritis lebih tepatnya untuk pada kalangan para santri, guna menambah wawasan dalam cakrawala berpikir agar kritis dalam memahami segala aspek yang ada.

Pendidikan literasi media mencakup pengajaran tentang sumber informasi, kebijakan media, kepentingan komersial, serta keterampilan dalam mengenali berita hoax atau palsu dan meningkat untuk berpikit kritis dalam menggunkan media.

Pentingnya literasi media di era digital saat ini, akses informasi dan teknologi sangat mudah, namun bisa berisiko jika tidak digunakan dengan bijaksana. Literasi digital membantu santri untuk menghindari penyebaran berita palsu, melindungi diri dari bahaya dunia maya dan menggunakan teknologi untuk tujuan edukatif.

Aspek literasi media untuk para kalangan santri memiliki beberapa catatan yang penting yang saya deskripsikan dalam tulisan ini yakni diantaranya adalah akses kemampuan untuk mengakses perangkat digital dan internet dengan tepat.

Evaluasi kemampuan untuk menilai kebenaran dan kredebilitas informasi online, partisipasi kemampuan untuk berpartisipasi secara aktif dalam berbagai platform digital dengan positif, keamanan kemampuan untuk melindungi diri sendiri dari ancaman dan resiko di dunia maya.

Literasi digital sangatlah penting bagi santri untuk menjadi pengguna teknologi cerdas dan bertanggung jawab, dengan mengembangkan literasi digital santri dapat memanfaatkan teknologi secara bijaksana, mamahami resiko dan meningkatkan kesadaran akan keamanan online.

Literasi memberikan banyak sekali manfaat, dengan literasu kita bisa memahami wawasan, ilmu pengetahuan, serta pandangan hidup yang berbeda dengan biasamya.

Selain itu, literasi juga dapat meningkatkan kinerja otak, menambah pembendaraan kata baru, menambah fokus, serta meningkatkan kemampuan seseorang untuk merangkai kata yang bermakna atau menulis.

Media literasi saat ini bermacam-macam jenisnya, mulai dari media elektronik, seperti ponsel, computer, televisi, radio dan lain sebagainya. Kemudia media cetak, seperti kosan, majalah, buku, novel, dan lainnya.

Menuntut ilmu tidak hanya bisa kita dapatkan dari sekolah saja. Namun, masih banyak tempat lain yang bisa digunakan sebagai tempat lain yang bisa digunakan sebagai tempat menuntut ilmu.

Seperti contohnya bimbel,sanggar, TPQ, pondok pesantren dan banyak lainnya. Pondok pesantren merupakan Pendidikan nonformal yang diselenggarakan untuk Pendidikan beragama dimasa depan.

Di pondok pesantren tidak hanya digunakan sebagai belajar ilmu agama dan kitab saja, tetapi juga pembekalan budi pekerti dan adab, serta kegiatan lainnya yang bisa digunakan untuk melatih dan meningkatkan potensi dan minat bakat dari santri itu sendiri.

Pendidikan literasi di pondok pesantren juga sangatlah diperlukan. Hal ini bertujuan untuk para santri bisa melihat dunia luar melalui media massa yang berpositif, menambah ilmu serta pengetahuan baru yang ttidak hanya terdapat di pondok pesantren.

Literasi media santri ini bisa dijadikan sebagai media penyaluran dakwah yang dibagikan para santri kepada Masyarakat luas. Dapat juga digunakan sebagai media pengenalan lingkungan serta tradisi di pondok pesantren yang mungkin dapat memperkenalkan gambaran pesantren kepada calon santri dimasa dating.

Mengenalkan santri kedalam budaya literasi media memang adalah sesuatu hal yang baik kepada santri itu sendirinya dikarenakan ini adalah terobosan yang baik kepada setiap individu yang mau belajar dalam dunia literasi media.

Seharusnya ada pendampingan yang ekstra untuk memberikan pemahaman kepada santri itu sendiri misalnya dibuatkan kelas khusus untuk belajar seperti editing, programers media, dan masih banyak hal yang harus diberikan kepada santri.

Budaya literasi media ini kepada santri harus segera di kampanyekan dan dimuat dalam setiap model pembelajaran khusus mau tidak mau hari ini santri di negeri ini harus melek terhadap dunia literasi yang sangat begitu cepat berkembang dan konsensnya.

Bagaimana para pimpinan pondok pesantren memberikan kepada  mentor ataupun tenaga pengajar yang ahli dalam bidangnya, karena hari ini semuanya nya berbasis teknologi.

Dan kita berharap para pemangku kebijakan harus membuatkan strategi yang terbaik kepada setiap pondok pesantren di Indonesia dengan ini supaya memberikan ruang yang terbaik kepada setiap pondok pesantren dan santri dalam memahami budaya literasi media.

Sehingga akan melahirkan generasi-generasi yang terbaik yang dimiliki khususnya dari pondok pesantren yang melahirkan santri-santri yang hebat dalam bidang media.

Interaksi Santri dan Literasi Media Sosial

Literasi media sebagai platform digital, merupakan tempat realitas sosial terjadi pada ruang dan waktu penggunannya beriteraksi, dan saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan saat ini, tidak hanya bersosial dalam dunia nyata akan tetapi juga mewakilkan diri kita beriteraksi dengan pengguna lainnya membentuk ikatan sosial.

Kecanggihan teknologi komunikasi berkembang begitupu pesatnya, dalam perkembangannya semakin lama semakin mengintegrasikan layanan yang membuka kesempatan beriteraksi dari segala penjuru dunia.

Jika sebelumnya kejadian terjadi dengan sederhana, maka sekarang semua terjadi semakin beragam dengan bantuan kecanggihan teknologi yang semakin pesat.

Perubahannya bukan hanya bersifat Teknik, namun juga culcural karena kita akan melihat lagi perbedaan antara berbagai aktivitas sebelumnya yang terpisah-pisah selama bertahun-tahun.

Lebih mashurnya media sosial dikalangan santri dan generasi milenial, telah meningkatkan daya dalam dunia nyata. Media sosial digunakan oleh generasi milenial untuk mengeskpresikan media sosial seperti tercabut dari sebuah peradaban.

Eksistensi santi dengan arti sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan, dengan arus digitalisasi ini, bukan lagi santri sebagi murid-murid yang tinggal di dalam pesantren yang hanya mengikuti Pelajaran kitab-kitab kuning atau kitab-kitab islam klasik.

Secara tidak langsung dilain waktu dan tempat mereka juga bersinggungan bahkan pemakai media sosial sebagai platfrom digital seperti youtube, facebook, instgram, dan juga tiktok. Bahkan pesantren sebagai naungan mereka tinggal juga mempunyai media sosial untuk tujuan tertentu eksistensi lembaganya.

Santri dalam literasi media digital sangatlah penting, mereka perlu diberdayakan dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan teknologi digital dengan bijak dan efektif.

Dengan hal ini ada beberapa catatan penting peran santri dalam literasi digital yakni, mengembangkan kemampuan digital, santri perlu memahami cara menggunakan perangkat digital, aplikasi dan internet dengan baik termasuk keamanan online, mengakses sumber belajar.

Mereka dapat menggunakan teknologi untuk mengakses sumber belajar online seperti e-book atau platform pembelajatan secara digital, mengkomunikasikan pemikiran agama bagi seorang santri dapat menggunakan media sosial dan blog untuk berbagai pemikiran, wawasan dan nilai-nilai agama mereka dengan lebih luas.

Penggunaan media sosial yang bertanggung jawab bagi seorang santri harus diajakarkan cara menggunakan media sosial dengan bijak, menghindari konten yang merugikan dan kontribusi positif dalam komunitas online.

Kreativitas dan inovasi, mereka dapat menggunakan teknologi untuk mengembangkan kreativitas mereka misalnya dengan membuat aplikasi atau konten digital yang mendukung nilai-nilai agama.

Kritis terhadap informasi online, santri perlu memiliki keterampilan kritis untuk mengevaluasi informasi yang mereka temui onlne agar dapat membedakan antara fakta dan informasi yang tidak valid.

Penggunaan teknologi dalam Pendidikan agama, teknlogi dapat digunakan dalam metode pengajaran agama, sehingga santri dapat lebih interaktif dan terlibat dalam pembelajaran. Menjadi teladan online, santri juga dapat menjadi teladan dalam prilaku online menjaga etika dan moralitas dalam interaksi online mereka.

Santri merupakan ujung tombak bagian dari masyarakat yang memiliki nilai luhur dimana santri dikenal sebagai kelompok Masyarakat yang banyak mendapat didikan agamanya.

Para santri dengan ilmunya untuk menjadi salah satu yang membentuk satuan baru yang lebih besar untuk bangsa ini yang memiliki peran besar dalam membongkar dan memerangi postingan fitnah.

Terutama artikel-artikel yang berkaitan dengan masalah agama. Santri dapat berperan mengisi media sosial dengan berbagai tulisan yang berbobot dan bermanfaat yang menyejukan para pembacanya.

Dengan keilmuan agama yang lebih matang dan kuat tentunya akan mewarnai dakwah di media sosial lebih menjunjung nilai toleransi dan moderat sehingga nilai-nilai yang diajarkan pesantren juga dirasakan melalui dakwah-dakwah positif oleh masyarkat banyak.

Menjadikan media sosial ini sebagai lokomotif dakwah bagi santri dalam proses memberikan pemahaman yang arif dan bijaksana kepada Masyarakat luas pada umumnya.

Santri juga dituntut harus bisa memberikan sumbangsih yang besar dalam budaya literasi media ini agar apa, agar santri tidak dipandang sebelah mata pada sekelompok orang yang meremehkan keilmuan dan pengetahuan darii santri itu sendirinya.

Laboratorium Dakwah Santri

Dakwah seorang santri hari ini tidak hanya bisa dilakukan secara offline saja akan tetapi ada yang cakupan yang lebih besar yakni melakukan dakwah di ruang media. Wadah santri dapat menggunakan platform-platform media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan agama dan nilai-nilai islam.

Komponen penting bagi santri dalam literasi media, santri bisa membuat konten yang edukaitf seperti artikel, video, ceramah, kutipan, dari kita suci dan tafsir agama. Konten ini dapat membantu pendengar atau pembaca untuk lebih memahami ajaran islam.

Diskusi dan tanya jawab, laboraturium ini dapat berfungsi sebagai tempat untuk berdiskusi tentang isu-isu agama, menjawab pertanyaan dari pengikut dan memfasilitasi dialogo yang positif.

Ceramah online, santri dapat mengadakan ceramah atau kuliah singkat secara online melalui platform streaming langsung seperti Youtube, Facebook Live, atau Insragram Live.

Sosialisasi acara keagamaan, media sosial dapat digunakan untuk menginformasikan santri dan Masyarakat tentang acara keagamaan, seperti kajian kitab, seminar atau peringatan hari-hari besar islam.

Kaum nahdliyin memiliki ciri khas literasi tersendiri yang terus dijaga secara rapi hingga bersambung kepada Rasulullah pembawa agama. iterasi digital adalah sebuah keharusan yang tidak bisa diabaikan oleh masyarakat Indonesia khususnya kaum Nahdliyin.

Literasi sendiri adalah kemampuan mengelola informasi dari apa yang dilihat, dibaca dan ditulis. Saat ini suasana pergaulan ala digital semakin mendominasi ruang hidup masyarakat, sehingga perlu gerakan bersama menuju lebih positif dan menghindari berbagai potensi negatif.

Salah satunya lewat literasi digital yang bermanfaat. Dimensi yang penting untuk dikembangkan dalam gerakan literasi digital yaitu ditekankan pentingnya menghormati, memegangi hubungan dengan guru-guru yang sungguh-sungguh mengemban sanad bersambung hingga sumbernya.

literasi digital yang dikembangkan jangan menyimpang dari ciri khasnya NU yaitu keberkahan. Di dalam wawasan NU, agama adalah sesuatu yang bukan hanya terkait dengan dimensi kognitif, bukan hanya informasi dan pengetahuan aqliah saja. Namun juga menyangkut ruhaniah yang mendalam.

Beragama menjalankan tuntunan Islam, jadi tidak hanya berpikir apa yang benar dan akurat secara akal. Tapi juga mementingkan barakah dari kehidupan beragama. Barakah itu seperti diajarkan oleh guru-guru NU yang terdekat yaitu sanad keilmuan.

Beragama ini bukan hanya sekedar mengamalkan apa yang kita simpan di dalam pengetahuan aqliah, tapi bagaimana kita menghubungkan diri pada sanad keagamaan kepada Nabi Muhammad. Inilah ciri khas literasi NU. kaum santri menjadi bagian dari era digital ini.

Karena ini adalah ruang untuk melanjutkan perjuangan dalam syi’ar Islam dan meluruskan peradaban. Oleh karenanya, perlu bagi santri menjadi pemain utama dalam literasi digital karena mereka adalah agent of change.

Padahal dasarnya literasi digital meliputi banyak hal. Meliputi pengetahuan, kemampuan atau keterampilan dan attitude yang baik. Elemen esensial dalam literasi digital memahami sebuah hal konstruktif tanpa merubah konten. Pola-pola komunikasi jadi masalah penting dalam literasi. Selanjutnya yaitu kepercayaan diri, kritis dan kreatif.

Rekomendasi

Santri dan Literasi Media dalam konteks santri sangatlah penting. Ada beberapa catatan yang menarik yang saya deskripsikan melalui tulisan ini diantaranya adalah pemahaman Informasi Media dan Media literasi.

Kemudian, membantu santri memahami informasi yang mereka temui di media, mengidentifikasi sumbernya, dan menilai kehandalannya.

Ini sangat penting untuk menghindari penyebaran informasi palsu dan memahami konteks berbagai berita. Penggunaan Media dalam Pendidikan Agama, Santri dapat memanfaatkan literasi media untuk mendalami pemahaman mereka tentang agama dan nilai-nilai Islam.

Mereka dapat menggunakan media untuk mengakses sumber daya pendidikan agama yang berkualitas dan berpartisipasi dalam dialog keagamaan yang lebih baik.

Kritis Terhadap isu keagamaan, literasi media membantu santri dalam memahami dan menganalisis isu-isu keagamaan dalam konteks media. Mereka dapat menjadi lebih kritis terhadap representasi agama dalam media dan memahami dampaknya terhadap persepsi masyarakat.

Partisipasi dalam Dialog Antar-agama, Santri yang memiliki literasi media yang baik dapat berperan dalam mempromosikan dialog antar-agama yang sehat dan toleran.

Kreativitas dan Penyampaian Pesan, Literasi media memungkinkan santri untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam menyampaikan pesan agama melalui berbagai media. Ini dapat membantu mereka menjangkau audiens yang lebih luas dan memperdalam pemahaman agama.

Dengan demikian, literasi media sesuatu yang  dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi santri, membantu mereka menjadi individu yang lebih terinformasi, kritis, dan etis dalam berinteraksi dengan media.

Sekaligus memperkuat pemahaman mereka tentang agama dan kontribusi mereka pada masyarakat yang lebih inklusif dan berdialekika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar