RUANGBICARA.co.id – Dunia intelijen sedang menyoroti kegagalan estimasi Amerika Serikat dalam memprediksi reaksi Iran. Menurut Ridlwan Habib, Analis Kajian Stratejik Intelijen UI, AS dan Israel awalnya mengira bahwa setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, kekuatan militer Teheran akan melemah atau bahkan menyerah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Salah satu poin paling mengejutkan yang diungkapkan Ridlwan adalah perubahan struktur komando militer Iran. Saat ini, Iran membagi divisinya menjadi 31 bagian di mana setiap divisi diperbolehkan melakukan serangan mandiri tanpa harus menunggu komando pusat dari Teheran.
BACA JUGA:Â Mantan Atasan Beberkan Sisi Asli Presiden Prabowo di Medan Tempur
Strategi ini membuat sistem deteksi dini milik Israel (IDF) dan Amerika Serikat kewalahan. “Mereka bisa menyerang kapan saja dengan target yang mereka pilih sendiri. Ini menyulitkan deteksi dini,” ujar Ridlwan dalam tayangan talkshow di salah satu TV swasta, Selasa (3/3/2026).
Iran juga menggunakan taktik cerdas dalam meluncurkan rudal-rudalnya. Mereka menggunakan teknik disperse, yaitu menembakkan rudal-rudal murah terlebih dahulu untuk memancing sistem pertahanan udara seperti Iron Dome yang dimiliki Israel.
“Setelah energi dan cadangan baterai sistem pertahanan lawan terkuras oleh rudal murah, barulah Iran meluncurkan rudal balistik canggih seperti Rudal Sijil yang memiliki kecepatan hipersonik hingga Mach 15. Kecepatan ini membuat Tel Aviv berada dalam posisi bahaya ekstrem karena nyaris mustahil untuk dicegat tepat waktu, ” Tambah Ridlwan.






