Kisah Singkat Tentang Kepulangan

Penulis adalah Zen Ihsan, Pengajar di salah satu SMA di Bogor. Ia senang sekali, bila lewat cerita bisa membuat seseorang terhibur...

Aku berada di Surabaya, dan sepertinya akan kembali menjalin hubungan yang intens dengan Arjuna. Dara menatap mataku dan mengungkapkan keinginannya, “Dan menikah dengannya.”

Aku memalingkan muka, bukan karena aku tidak suka dengan keterangan Dara, aku hanya tak ingin dia melihat air mata yang hampir tumpah. Sayangnya, itu terlambat.

“Maafkan aku,” kata Dara dengan suara lirih.

Aku tak menyangka, akhirnya aku masih tidak siap dengan kenyataan ini. Tetapi ini bukan akhir; sejak awal aku telah memahami bahwa hari ini akan tiba. Ini adalah konsekuensi yang sudah kusadari sejak ungkapanku yang pertama pada Dara: teruslah mencintai Arjuna, sementara aku dengan segenap hati menyimpan cintaku padamu, tanpa mengganggu hubunganmu.

Setelah itu, kami sering bertemu. Terkadang, Arjuna menelepon Dara di tengah-tengah pertemuan kami.

“Angkatlah,” kataku. Dara awalnya ragu, tetapi belakangan ia terbiasa setelah aku beberapa kali mengatakan, “Angkatlah, Dara,” setiap kali Arjuna meneleponnya.

Belakangan, Arjuna juga mengetahui bahwa ada laki-laki lain yang menyukai kekasihnya: aku. Namun, Arjuna tidak seperti laki-laki kebanyakan. Dia tidak murka atau meneror saya dengan panggilan telepon. Sebaliknya, kami malah berhubungan baik.

Beberapa kali Arjuna membalas story Instagramku, atau aku yang membalas postingannya. Aku menyadari bahwa Arjuna adalah tipe manusia yang memberi kepercayaan penuh pada seseorang. Sejujurnya, aku menyukainya; dia adalah laki-laki yang baik, dan Dara pantas mendapatkannya. Semua ini adalah hal yang adil: Dara yang cantik dan Arjuna yang baik.

Tapi masalahnya, aku masih mencintai Dara dan bersyukur karena Dara memberi aku ruang dalam hidupnya. Dia juga adalah perempuan yang baik.

“Tak apa,” kataku sambil menghadapkan kembali wajahku pada Dara. Wajah kami saling berdekatan, dan Dara menatapku sesaat.

Lalu, dengan cepat, ia memalingkan wajahnya dan berkata, “Kau menangis.”

Kami berdua berada di area belakang Fakultas Seni, di sebuah taman duduk yang memiliki hawa lembab yang menawarkan aroma khatulistiwa.

Taman ini terletak agak jauh dari bangunan utama kampus, dan kami menyebutnya “Rimba.” Di sana, kami berdua duduk, jauh dari perhelatan wisuda yang baru saja selesai digelar.

Dara adalah salah satu dari para wisudawan yang baru saja merayakan kelulusannya. Begitu para wisudawan keluar dari gedung, ia langsung menghambur ke taman tersebut. Dia mengirim pesan singkat, “Temui aku di Rimba.”

Saat itu, aku sedang berada di area kampus, tetapi tidak berniat untuk menemui Dara. Arjuna pasti berada di sana, dan aku tidak ingin muncul di tengah-tengah kerumunan. Namun, setelah menerima pesan singkat Dara, aku segera bergegas untuk menemuinya.

Udara di atas kami dipenuhi dengan dedaunan dan ranting-ranting pohon beringin. Aku memegang kedua tangan Dara, mengajaknya berdiri, dan kami mulai berjalan-jalan menyusuri taman ini, membelai bunga-bunga yang indah dan semak-semak yang tertata rapi di sekitarnya.

Di tengah-tengah taman, terdapat enam bangku yang tertancap di tanah, masing-masing berukuran cukup besar dan terbuat dari semen berlapis keramik dengan warna campuran antara hijau muda dan krem.

Di depan setiap bangku, terdapat meja-meja dengan model yang serupa. Satu bangku ditempati oleh sepasang pasangan perempuan dan laki-laki, sementara bangku lainnya ditempati oleh empat mahasiswi yang tengah berbincang-bincang. Beberapa orang lalu lalang di sekitar taman.

Ketika kami kembali duduk, aku berbicara dengan hati-hati, “Menikahlah dengan Arjuna, dan biarkan aku terus mencintaimu.”

Dara membalas, “Dengan caraku?” Dia memegang kedua tanganku, dan mata kami bertemu.

“Lalu, bagaimana dengan nasibmu?” Dara masih memegang kedua tanganku dan menatapku.

Aku menjawab, “Aku akan mencintaimu, keluargamu, dan anak-anakmu kelak.” Air mata tidak lagi mengalir, tetapi Dara yang menangis.

“Bukankah kamu bilang akan melanjutkan studi sampai setinggi-tingginya?” kataku pada Dara. “Aku bisa membiayai studi lanjutanmu, biar aku yang bekerja. Aku juga bisa membantu biaya pendidikan anak-anakmu di sekolah unggulan atau mendukung anak-anakmu yang ingin kuliah di luar negeri. Saya bahkan bisa membangun perpustakaan megah untuk keluargamu.”

Dara merangkulku, sebuah tindakan yang jarang ia lakukan sebelumnya. Aku tercengang dan berhenti berbicara.

Dara menangis di pundakku, dan aku membalas pelukannya dengan hangat.

Aku teringat perjalanan kami selama empat tahun ini. Aku tidak pernah menyebutnya sebagai hubungan, apalagi sebagai pacar, karena aku tahu dari awal bahwa Dara telah memiliki kekasih yang jauh di Surabaya, sejak masa SMA, dan mereka telah menjalani hubungan.

Kami hampir bertemu setiap hari. Selama empat tahun.

Setelah tangisnya mereda, ia melepas pelukannya. Ia kembali memegang kedua tanganku.

“Lakukanlah sekehendakmu. Aku percaya cinta, kau pun begitu. Empat tahun bersamamu, aku telah melihat kebersihan hatimu.”

Aku melihat diriku di kedua bola matanya yang danau. “Dan pasti, Arjuna akan membuka selebar-lebarnya jalan untukmu,” Dara menyempurnakan kalimatnya.

“Terimakasih.” Kataku tak menjawab banyak. Aku tak ingin kata-kata menghancurkan keutuhan batinku. Dara mengangguk, dan tersenyum, lalu perlahan melepaskan kedua tanganku.

Dara berkata ia harus kembali ke sana untuk menemui keluarganya. Dan Arjuna? Kataku. Arjuna ada di sana. Sampaikan salamku untuk Arjuna.

Ia mengangguk, dan tersenyum. Kami keluar taman dan berjalan turun menyusuri area gedung belakang Fakultas Seni. Sampai di pertengahan jalan aku pamit ke arah jalan yang berbeda. Lalu Aku dan Dara berpisah setelah kami berpelukan sekali lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *