RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Baru ini peristiwa tidak mengenakan terjadi kepada pemain asal Malut United, Yakob Sayuri. Pasalnya, dirinya kini tidak bisa membela Malut United pada laga berikutnya saat melawan Persib pada tanggal 14 Desember mendatang dan dijatuhi hukuman larangan bermain 3 pertandingan oleh Komisaris Disiplin PSSI.
Namun, di balik dirinya yang dijatuhi oleh hukuman tersebut, ada satu hal yang menurut pihak dari Yakob Sayuri terasa sangat janggal. Karena, penurunan jatuhan hukum kepada Yakob Sayuri menuai kritik karena dari pihak pemain mengaku mengalami tindakan bernada ucapan rasis dari seorang individu di area stadion.
BACA JUGA:Â Atletico Madrid Tak Terkalahkan dari PSV, Apakah Rekor Manis Itu Akan Bertahan?
Pada awalnya, insiden terjadi setelah laga Malut United menghadapi Persita Tangerang pada 23 November 2025 di Stadion Indomilk Arena. Ketika para pemain berjalan menuju lorong stadion, seorang pria yang mengaku sebagai wartawan tiba-tiba memasuki area steril tanpa identitas resmi.
Para gerombolan tersebut pada kejadian ini sedang merekam situasi dan memprovokasi para pemain, termasuk mengucapkan kalimat bernada rasis kepada Yakob. Merasa terganggu, Yakob menegur pria tersebut agar keluar dari area yang seharusnya hanya diakses oleh pemain dan ofisial. Situasi kemudian memanas, ditambah masuknya beberapa ofisial Persita yang juga tidak memiliki kartu identitas resmi.
Dengan adanya insiden ini, meski Yakob dilaporkan sebagai pihak yang mendapatkan perlakuan rasis, Komdis PSSI tetap menjatuhkan sanksi disipliner kepadanya berupa larangan bertanding dalam tiga laga berikutnya.
Setelah kejadian tersebut, ditambah dengan mendengar keputusan dari Komdis PSSI membuat pihak supporter Malut United, Salawaku, pun kecewa dengan pemberian hukuman tersebut. Mereka menilai hukuman yang dijatuhkan tidak adil karena Yakob dianggap sebagai korban provokasi dan rasisme.
Selain itu, mereka mempertanyakan mengapa individu yang masuk tanpa izin ke area steril tidak dikenai sanksi apa pun. Kritik juga muncul terkait proses investigasi yang dinilai tidak transparan dan tidak menyeluruh. Bahkan, beberapa pihak menduga adanya ketidakobjektifan dalam penanganan kasus sehingga mendesak PSSI meninjau kembali keputusan tersebut.
Dan hingga saat ini pun, tetap saja Komdis PSSI menjatuhkan sanksi kepada Yakob Sayuri yang notabenenya adalah korban dari insiden laga tersebut. Kasus ini juga semakin mengungkap adanya kelemahan dalam mekanisme pengamanan area stadion, prosedur investigasi, serta cara Komdis PSSI mengambil keputusan. Penanganan terhadap insiden yang melibatkan unsur rasisme seharusnya lebih sensitif, objektif, dan berpihak pada keadilan.






