PT INKA Jadi Andalan
Dalam mendukung target tersebut, PT Industri Kereta Api (INKA) menjadi tulang punggung pengembangan sarana transportasi rel nasional. Perusahaan pelat merah ini telah menciptakan berbagai produk berstandar internasional, seperti KRL, LRT, autonomous battery tram, hingga sistem propulsi hybrid dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 40–60 persen.
Direktur Pengembangan PT INKA, Roppiq Lutzfi Azhar, menyampaikan bahwa pihaknya fokus pada peningkatan TKDN melalui desain dan perakitan lokal untuk komponen utama seperti sistem propulsi, bogie, dan carbody berbahan aluminium dan stainless steel.
“Kami ingin mengurangi ketergantungan impor dan membangun ekosistem supply chain nasional. Produk kami bahkan sudah menembus pasar luar negeri seperti Bangladesh, Filipina, Malaysia, hingga Australia,” ujarnya.
Sementara itu, Vice President of Technical Engineering of Rollingstock PT Kereta Api Indonesia (KAI), Soegito, menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat penggunaan komponen lokal. KAI telah menyusun strategi untuk mengurangi ketergantungan pada suku cadang impor.
“Diperlukan ekosistem yang mendukung substitusi suku cadang impor dan pengembangan teknologi. Ini sangat penting, apalagi sektor ini termasuk dalam proyek strategis nasional,” ungkap Soegito.
Sebagai penutup, Kementerian Perindustrian berharap diskusi lintas sektor dapat menghasilkan kebijakan serta rencana aksi nyata. Tujuannya adalah menjawab berbagai tantangan industri sekaligus mempercepat transformasi sektor perkeretaapian menuju sistem transportasi yang modern dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Fenomena Rojali Jadi Sorotan, BPS Sebut Sinyal Tekanan Ekonomi Rumah Tangga
“Kita bukan bangsa konsumen, tetapi bangsa industri. Sektor perkeretaapian adalah bukti nyata bahwa Indonesia punya daya saing untuk menembus pasar global,” pungkas Faisol.






