Melawan Perbudakan Spiritual

RUANGBICARA.co.id – Saya akan memulai tulisan ini dengan mengutip sebuah khabar yang tercatat di dalam kitab Riyadhussholihin sebuah kitab hadist yang ditulis Imam Nawawi ad-Dimasqi.

Perjalanan Shofwan bin Assaal bersama Nabi Muhammad SAW

Pada hadist yang ke 19 menceritakan perjalanan Shofwan bin Assaal ra bersama kanjeng Nabi Muhammad Saw dalam satu perjalanan. Ketika beliau berada di hadapan Nabi Muhammad SAW tiba-tiba ada seorang a’robi (orang arab pedalaman) memanggil beliau dengan suara yang sangat keras.

“Hai Muhammad!,”

Nabi Muhammad SAW pun membalas panggilan tersebut dengan suara yang sama kerasnya, dengan menjawab “Ya ini saya dihadapan kamu!.”

Kemudian Shofwan mengingatkan seorang a’robi tersebut, bahwa berkata di hadapan Kanjeng Nabi tidak pantas dengan suara yang keras. Karena itu tidak sopan dan dilarang.

Imam Mubarokfuri (W. 1353 H) dalam kitab Tuhfatul Akhwadzi ketika mengomentari riwayat di atas (Hadist nomor 3535 Al jami Tirmidzi/Sunan Tirmidzi).

Beliau berpendapat bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW sangat memaklumi perilaku a’robi tersebut, sehingga beliau menjawab sapaan tersebut dengan suara yang sama keras atau bahkan lebih keras. Karena Kanjeng Nabi Muhammad sangat menjaga perasaan orang itu.

Prinsip Kesetaraan dan Egaliter Nabi Muhammad SAW

Prof. Musthafa Khin dan Prof. Daibulbugho dalam Nuzhatul muttaqin syarah Riyadhussholihin menjelaskan bahwa riwayat ini mengajarkan kepada kita agar kita selalu bijaksana dalam menghadapi orang lain, dan ketika kita berkomunikasi dengan orang lain maka kita menyesuaikan dengan pengetahuan dan kemampuan intelektual orang tersebut.

Saya sendiri berandai-andai, jika saja Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjawab sapaan a’robi tadi dengan suara lembut, maka itu akan merusak suasana kebathinan seorang arab dusun tadi. Tentu a’robi tersebut akan membatin dalam hatinya kalau dia begitu kasar dan buruk prilaku. Kanjeng nabi tidak ingin itu terjadi, saking sayangnya terhadap ummatnya.

Inilah salah satu sifat mulia kanjeng nabi Muhammad SAW. Dan riwayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa beliau sangat menjunjung prinsip kesetaraan serta sosok yang sangat egaliter. Maka kita sebagai umatnya mesti harus mengikuti dan mengamalkan ajaran yang mulia nan menawan ini.

Namun akhir-akhir ini konsep kesetaraan dan keindahan ajaran Islam ini dirusak oleh sebagian umatnya sendiri, bahkan pelaku- pelaku perusak konsep kesetaraan ini adalah orang-orang yang mengaku sebagai keturunan kanjeng nabi yang agung dan mulia (Klan Ba’alawi Yaman).

BACA JUGA ARTIKEL: Doa Malam Lailatul Qadar di Bulan Suci Ramadhan

Sikap Arogansi Klan Ba’alawi

Mereka ini “Klan Ba’alwi” memperlihatkan ke publik sikap arogansi, congkak dan banyak di antara mereka yang merendahkan Kiai-kiai Nusantara dengan sebutan-sebutan yang tidak pantas dan bahkan tidak manusiawi.

Dahulu kakek buyut kita ber-husnudzon kepada mereka dengan menerima dan menganggap Klan Ba’alawi benar sebagai “Dzuriyah.” Hal ini karena mereka juga sangat menghormati kita.

Kakek buyut kita juga mengajarkan kepada kita agar kita terus menghormati anak cucu mereka, serta mendoktrin kita bahwa membahagiakan klan Ba’alawi sama dengan membahagiakan kanjeng Nabi SAW.

Namun ketika angkatan muda Ba’alawi bertindak-tanduk kurang baik, dengan merendahkan pemuda-pemuda nusantara dengan menyebut pesek, made in lokal, bahkan banyak juga yang menyebut Kiai kita (maaf) anjing, babi, monyet. Bahkan kiyai kita disebut “taik.” Bahkan juga ada yang melakukan perbuatan culas seperti meniduri wanita-wanita pribumi (zinah), seperti yang terjadi di ciledug cirebon.

Belum lagi, pemalsuan makam leluhur nusantara dan menisbahkan-nya kepada Ba’alawi. Sehingga membuat kita bertanya-tanya dan ragu apakah mereka benar keturunan Baginda Rasulullah Saw?

Kenyamanan hati sanubari anak-anak bangsa ini pada akhirnya terganggu dan alam kemanusiaan mereka bangkit dan bergerak untuk berani bersikap kritis kepada mereka klan Ba’alawi di Indonesia. Karena kita punya adagium “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.” Inilah yang diajarkan nenek moyang kita.

Adagium “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya” adalah sebuah kearifan lokal yang sangat bernilai tinggi yang mestinya menggerakkan kita untuk bersikap cerdas dan teliti dalam memahami fakta-fakta sosial dinamika kehidupan bermasyarakat.

Sekarang mari kita telaah informasi di dalam alqur’an tentang ahli bait (Keluarga dan kerabat Rasulullah SAW) dalam surat Al-ahzab ayat 33 yang artinya

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan mu sebersih-bersihnya.”

Kata Arrijs dalam ayat ini memiliki makna Al-itsm artinya dosa (Tafsir Jalalain). Dalam tafsir Ibnu Athiyyah Al-Andalusi arti Arrijs adalah nama untuk perbuatan yang mengandung dosa atau perbuatan yang akan mendapatkan siksa bagi pelakunya atau apa pun yang kotor dan najis adalah Arrijs.

Sifat-sifat tercela juga disebut Arrijs.  Menurut pandangan Imam Ibnu Athiyyah dalam ayat ini secara tersurat dan tersirat menginformasikan kepada kita bahwa Allah SWT telah menghilangkan sifat-sifat kotor dari dalam jiwa mereka (ahli bait), baik sifat-sifat kotor lahiriyah atau pun maknawiyyah. Redaksinya begini:

فأذهب الله جميع ذالك عن أهل البيت

“Maka Allah SWT telah menghilangkan Arrijs (keburukan lahiriyah dan bathiniyah) dari ahli bait Rasulullah SAW.”

Merujuk uraian Ibnu Athiyyah di atas penulis berkesimpulan bahwa sifat-sifat tercela dan kelakuan-kelakuan bejat itu tidak akan merasuk ke dalam anak cucu Kanjeng Nabi Muhammad SAW, meskipun itu tidak serta merta menjadikan mereka menjadi ma’shum seperti para nabi. Paling tidak, watak katuranggan Dzuriyah adalah baik-baik saja dan mengesankan.

Tetapi khalayak ramai hari ini dipertontonkan perilaku-perilaku yang buruk dari klan Ba’alawi yang menjadikan kewarasan orang-orang yang waras menilai bahwa mereka bukan keluarga manusia suci Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Dimana darah suci Rasulullah mestinya telah menyucikan watak-watak kotor klan Ba’lawi. Tetapi yang terjadi pada kaum muda Ba’alawi tidak seperti itu.

Oleh karena itu, bagi insan-insan yang cerdas yang telah membaca kitab-kitab klasik dan buku-buku modern dari berbagai disiplin ilmu wajib bersikap kritis terhadap kelompok yang mendakwahkan diri mereka sebagai turunan manusia suci, tapi berkelakuan seperti para begundal bersorban.

Ahmad as-showi dalam kitab khasiyah as-showi mengatakan:

فمن ادعى الطهارة مع ارتكابه المعاصي فهو ضال وكذاب

“Barang siapa mengaku suci (padahal dalam waktu) yang bersamaan dia masih berbuat maksiat-maksiat maka ketahuilah bahwa dia adalah sesat dan pendusta.”

Mereka klan Ba’alawi sering mendakwahkan bahwa di dalam diri mereka mengalir darah suci baginda Rasulullah SAW, tetapi di dalam waktu yang bersamaan mereka mencaci maki, sombong, mengkerdilkan orang lain yang bukan golongannya, men-dawir dan semacamnya. Maka kalau merujuk penjelasan Imam Ahmad as-Showi, jelas mereka telah berdusta atas klaim tersebut.

Akal sehat kita mengatakan “Kalau memang betul darah suci kanjeng Nabi Muhammad SAW mengalir dalam diri mereka, mengapa darah suci itu tidak mensucikan sifat- sifat najis yang ada pada diri mereka?” bukan kah pada surat Al-ahzab ayat 33 diterangkan oleh Imam Ibnu Athiyyah bahwa Allah SWT telah membersihkan ahli bait dari kotoran-kotoran lahiriyah dan maknawiyah (arrijs).

Imam Ibnu Athoillah as-Sakandari (wafat 709 H) dalam kitab Tajularus al-Hawi li tahdzibinnufus menuturkan :

فانه لو صح الأصل لصح الفرع

“Sesungguhnya kalau asalnya baik maka cabangnya pun akan baik.”

BACA JUGA ARTIKEL: Menggali Keutamaan Surah Al Fath di Bulan Ramadhan

Kalau kita menginterpretasi kata-kata Imam Ibnu Athoillah dengan pemaparan yang lebih luas, maka kita akan menyimpulkan bahwa mustahil anak cucu nabi Muhammad SAW berprilaku tidak baik, apalagi berprilaku tidak manusiawi, seperti memperkosa dan membunuh. Karena kanjeng Nabi adalah mata air yang bening yang mensucikan setiap hadas (kotoran maknawiyah) dan khobast (kotoran lahiriyah). Makna ini mendekati makna pepatah “Buah jatuh tidak akan jauh dar pohonnya.”

Implikasi Kritik Terhadap Nasab Klan Ba’alawi

Bersikap kritis adalah cermin masyarakat modern dan berperadaban tinggi. Orang-orang hebat, ahli tafsir alqur’an, ahli ilmu riwayat, sejarawan, ilmuwan, ahli fiqih dan ahli-ahli lainya adalah orang-orang kritis.

Para ilmuwan tersebut mewariskan kepada kita kebaikan kebaikan duniawiyah dan ukhrowiyah setelah mereka membuang yang buruk dari yang baik. Juga mereka sanggup memilih dan memilah yang baik dan menyingkirkan yang buruk karena kekritisan mereka. Kalau saja tidak memiliki daya kritis yang tajam niscaya mereka akan mewariskan kepada kita kebaikan yang tercampur dengan keburukan.

Tetapi sikap kritis yang keren dan sehat ini menurut oknum klan Ba’alawi, jika dipakai untuk mengkritisi mereka maka itu seperti iblis. Jadi kalau ada seorang dari klan Ba’alawi berbuat amoral, atau berbuat merugikan orang lain, maka kita tidak boleh mengkritisinya, karena kritis terhadap komplotan Ba’alawi adalah tercela.

Tentu saja doktrin ini irasional serta menyesatkan, juga tidak membuat bangsa ini menjadi cerdas, malah menjadikan bangsa ini menjadi dungu.

Jadi mestinya kita balik doktrin tersebut dengan doktrin baru yang segar dan mencerdaskan, yaitu orang cerdas yang tidak kritis terhadap perilaku buruk klan Ba’alawi adalah syaiton yang bisu.

Argumentasinya adalah karena perilaku buruk adalah kemungkaran. Ketika ada kemungkaran di depan orang cerdas, kemudian dia abstain atas kemungkaran itu maka dia laksana syaiton yang bisu.

An-Nahlawi (wafat : 1350 H) dalam kitab alhadhzr wal ibahah menuturkan sebuah riwayat :

الساكت عن الحق شيطان أخرس

“Orang yang diam tentang kebenaran laksana Syaiton yang bisu.”

Untuk itu kita sangat berterima kasih sekali kepada K.H Imaduddin Ustman Al-bantani yang telah membangkitkan umat Islam Indonesia khususnya warga Nahdliyyin agar bersikap kritis terhadap klan Ba’alawi. Beliau sendiri mengkritik bahwa nasab Ba’alawi terputus dan tidak tersambung kepada baginda Nabi SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *