RUANGBICARA.co.id, Pekanbaru – Tragedi yang terjadi di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) mengejutkan publik dan memantik diskusi luas tentang kesehatan mental mahasiswa. Seorang mahasiswi yang tengah bersiap mengikuti seminar proposal (sempro) menjadi korban pembacokan oleh rekan kampusnya sendiri, diduga akibat penolakan cinta.
Peristiwa ini bukan hanya persoalan kriminalitas, tetapi juga membuka sisi psikologis yang lebih dalam, yakni fenomena emotional dysregulation atau ketidakmampuan mengelola emosi secara sehat.
BACA JUGA:Â Memahami Dinamika di Balik Kasus Rizky Febian dan Teddy Pardiyana, Ini Tinjauan Secara Psikologinya
Kejadian ini bermula ketika mahasiswi berinisial FAP (23), asal Bintan, Kepulauan Riau, dijadwalkan mengikuti ujian seminar proposal pada Kamis pagi. Sebelum berangkat, korban sempat meminta doa kepada keluarga agar ujiannya berjalan lancar.
Namun pagi yang seharusnya menjadi langkah awal menuju kelulusan itu berubah menjadi tragedi. Korban diserang menggunakan senjata tajam oleh pelaku berinisial RM (22) di Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum.
Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka serius di bagian kepala, tangan, dan kaki, lalu dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Keluarga menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada pihak kepolisian.
Apa Itu Emotional Dysregulation?
Secara psikologis, emotional dysregulation adalah kondisi ketika seseorang kesulitan mengenali, memahami, dan mengendalikan emosinya. Emosi seperti marah, kecewa, cemburu, atau frustrasi dirasakan secara sangat intens dan sulit dikontrol.
Beberapa ciri emotional dysregulation antara lain: ledakan amarah yang berlebihan, impulsif dalam bertindak, sulit menerima penolakan, reaksi ekstrem terhadap konflik interpersonal dan penyesalan setelah bertindak agresif.
Dalam konteks tragedi ini, penolakan cinta yang seharusnya menjadi pengalaman emosional yang wajar diduga berubah menjadi pemicu tindakan agresif karena emosi tidak terkelola dengan baik.
Psikologi sosial juga mengenal istilah narcissistic injury, yaitu kondisi ketika harga diri seseorang merasa sangat terluka akibat penolakan atau kegagalan. Individu dengan harga diri yang rapuh dapat merespons luka emosional tersebut dengan kemarahan atau perilaku destruktif.
Tekanan akademik, ekspektasi sosial, serta dinamika relasi di kampus dapat memperparah kondisi ini apabila tidak diimbangi dengan literasi emosi dan dukungan konseling.






