RUANGBICARA.co.id – Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memuncak setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia. Langkah drastis ini diambil menyusul serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel ke sejumlah target strategis di Iran pada Sabtu (28/2/2026), yang memicu kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Media lokal Iran, Tasnim News Agency, melaporkan IRGC telah memperingatkan kapal-kapal dagang dan tanker bahwa situasi keamanan di sekitar selat tidak kondusif akibat “agresi militer AS dan Israel serta respons Iran.” Dengan dihentikannya lalu lintas kapal, Selat Hormuz pada praktiknya dinyatakan tertutup.
BACA JUGA: Harga Emas Antam Melonjak Rp40.000 di Akhir Pekan, Tembus Segini per Gram
Apa Itu Selat Hormuz?
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Diapit Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan, lebar selat ini sekitar 50 kilometer di pintu masuk dan keluar, menyempit hingga 33 kilometer di bagian tengah.
Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global melewati jalur sempit ini setiap hari. Negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Iran, dan UEA mengandalkan selat ini sebagai pintu ekspor utama energi mereka. Sepanjang paruh pertama 2023 saja, sekitar 20 juta barel minyak per hari melintas di perairan ini, menjadikannya nadi energi dunia.
Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu regional, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi global. Mantan Kepala Intelijen Inggris, Alex Younger, menyebut skenario tersebut sebagai “bencana ekonomi global” karena dampaknya terhadap harga energi.






