Analis geopolitik dari Universitas Kuwait, Bader Al-Saif, memperingatkan bahwa pasar global akan bereaksi dengan kepanikan. Lonjakan harga minyak hampir tak terhindarkan, diikuti gejolak pasar saham dan tekanan inflasi di berbagai negara.
Asia diperkirakan menjadi kawasan paling terdampak. Sekitar 82% minyak mentah yang melewati Selat Hormuz dikirim ke negara-negara Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Gangguan pasokan dalam waktu singkat saja bisa memicu lonjakan harga energi dan memperberat beban inflasi global.
Bagaimana Iran Bisa Menutup Selat?
Secara hukum internasional, negara berhak mengontrol wilayah laut sejauh 12 mil laut dari pantainya. Pada titik tersempit, jalur pelayaran Selat Hormuz berada dalam wilayah teritorial Iran dan Oman.
Secara militer, Iran memiliki sejumlah opsi untuk menghambat lalu lintas, mulai dari penanaman ranjau laut, pengerahan kapal cepat dan kapal selam, hingga penggunaan rudal anti-kapal.
Namun para analis menilai langkah itu kemungkinan besar hanya efektif sementara, karena militer AS dan sekutunya diyakini akan merespons untuk membuka kembali jalur tersebut, seperti yang pernah terjadi pada era “perang tanker” di akhir 1980-an.
Antara Tekanan Politik dan Risiko Ekonomi
Meski parlemen Iran dilaporkan menyetujui mosi penutupan selat, keputusan akhir tetap berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Penutupan penuh Selat Hormuz berisiko menjadi “bunuh diri ekonomi” bagi Iran sendiri, mengingat ekspor minyak adalah sumber utama pendapatan negara.
Analis energi Vandana Hari menilai Iran akan kehilangan lebih banyak daripada yang diperoleh jika benar-benar memblokade selat tersebut. Selain berpotensi memicu konflik terbuka yang lebih luas, langkah itu juga dapat merusak hubungan Iran dengan mitra dagangnya, termasuk China.
BACA JUGA: Ketika Tur Wisata Berubah Jadi Medan Perang: Aksi “Daddy Goals” Channing Tatum di White House Down
Penutupan Selat Hormuz, jika benar-benar berlangsung lama, akan menjadi salah satu guncangan geopolitik terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Jalur sempit di Teluk Persia itu bukan sekadar perairan strategis, melainkan urat nadi energi dunia. Ketika selat itu terhenti, denyut ekonomi global pun ikut terancam.






