Setelah menikah dengan Hajjah Marfuah, Abah melanjutkan pengabdian di Pondok Pesantren Al-Khoiriyah Leuwi Jaksi, meneruskan dari mertuanya, Mama KH. Muhammad Yusuf bin KH. Soleman. Di tengah kesibukannya mengajar, Abah tetap istiqamah mengikuti pengajian mingguan kepada Abuya Dimyathi Cidahu sejak 1994 hingga wafatnya Abuya Dimyathi pada 2003.
Sering diceritakan, setelah pengajian selesai dan jamaah pulang, Abah kerap diminta tinggal untuk berbincang oleh Abuya Dimyathi. Keduanya terpaut usia 12 tahun. Kisah-kisah karomah Abuya Dimyathi pun sering Abah ceritakan kepada keluarga dan santrinya sepulang dari Cidahu.
Selain kepada Abuya Dimyathi, Abah juga mengikuti pengajian sahabatnya, Abuya Damanhuri Cikadueun. Melalui Abuya Damanhuri inilah, Abah berkesempatan mengaji kepada ulama Timur Tengah, seperti Syeikh Zaenudin Baweyan, Syeikh Ismail al-Yamani, dan Syeikh Muhammad Amin al-Kutbi, saat berada di Mekkah selama kurang lebih delapan bulan sebelum menyusul istrinya untuk melaksanakan ibadah haji.
Ketawadhuan dan Keteguhan Sikap
Dari jejak keilmuannya itu, Abah tampil sebagai sosok yang sederhana dan penuh ketawadhuan. Tak heran, hampir tidak ada catatan tertulis keterlibatannya dalam struktur NU, baik di Kabupaten Lebak maupun di tingkat lainnya. Padahal, di masa tekanan Orde Baru yang memaksa para kiai memilih Golkar, Abah justru mendapat arahan dari pusat NU untuk menolak. Sikap itu membuat Abah sempat ditahan aparat. Namun, justru dari situ keteguhan dan istiqamah Abah semakin terlihat yang tetap teguh mendukung dan memilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Kehidupan Abah berjalan sebagaimana masyarakat pada umumnya. Beliau bertani, mengajar ngaji, dan menjadi imam shalat. Sosok kyai kampung yang tidak membedakan siapa pun yang datang bersilaturahim, meminta doa, atau mengundangnya dalam selametan dan syukuran. Banyak persoalan masyarakat yang turut beliau bantu selesaikan.
Satu kalimat Abah yang masih diingat hingga kini, “Abah mah lain jalma gedean.”
Kalimat itu sejalan dengan filosofi padi: makin berisi, makin menunduk.
Karomah dan Warisan Keilmuannya
Berbagai kisah karomah Abah juga diceritakan oleh santri dan masyarakat sekitar. Mulai dari kisah Abah yang lebih dulu sampai di ladang dibanding para santrinya, hingga cerita kebakaran rumah warga yang padam setelah Abah berdoa dan menyemburkan air. Wallahu a’lam.
Selama 85 tahun hidupnya, Abah menghabiskan waktu untuk mengaji, mengajar, dan berjuang bagi umat. Beliau wafat pada 27 April 2019 atau 22 Sya’ban 1440 Hijriyah dan dimakamkan di pemakaman keluarga di belakang kediamannya, Leuwi Jaksi, Desa Margatirta, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten.
Abah meninggalkan istri tercinta, Hajjah Marfuah, serta lima orang anak: Zaenal Mustofa, Udin Fachrudin, Muhammad Thobari, Ahmad Khusairi, dan putri bungsu Mamas Masturoh. Beliau tidak meninggalkan harta, kecuali warisan keilmuan. Tak heran, banyak santri beliau juga yang kemudian menjadi kiai dan tokoh masyarakat.
Di antara santri yang dikenal luas adalah Mama Kiai Haji Muhammad Mas’ud, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Lebak Picung, Rangkasbitung, tokoh NU Banten yang aktif sejak Gerakan Pemuda Ansor tahun 1964 dan pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Lebak selama beberapa periode dan PWNU Banten.
Demikian kisah kiai kampung yang tak populer, tetapi sangat dirindukan oleh masyarakat, santri, dan para muhibbinnya.
BACA JUGA: 5 Kiai Asal Pulau Jawa yang Memiliki Kesaktian Luar Biasa
Pada awal tahun 2026 ini, haul ke-7 Abah Khaerudin Syukaris akan diperingati pada Minggu, 15 Februari 2026, di kediaman beliau. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan atas beliau, serta menjadikan kita semua bagian dari penerus nilai-nilai keilmuan, ketawadhuan, dan keistiqamahan yang beliau teladankan.






