Ironi keindahan
Sayangnya, keindahan yang seharusnya diikuti kenyamanan berwisata masih terganggu oleh adanya pungutan liar di beberapa titik menuju kawasan wisata. Beberapa pengunjung mengaku dikenakan biaya lebih dari satu kali saat memasuki area tertentu seperti pemandian air panas atau spot foto.
Dalam sebuah video perjalanan seorang konten kreator, ditunjukkan bahwa pungutan dilakukan oleh berbagai pihak dengan alasan berbeda-beda. Pihak keamanan sempat menjelaskan bahwa ada lahan yang dikelola resmi, namun ada pula area yang dikelola warga setempat sehingga memunculkan pungutan ganda.
Meskipun tengah ada penataan ulang untuk mengurangi pungutan tidak resmi, kenyataan di lapangan menunjukkan masalah ini belum sepenuhnya selesai.
Selain pungli, beberapa wisatawan mengeluhkan kondisi fasilitas yang kurang terawat, terutama di area pemandian air panas. Ada yang menyebut kolam terbatas, air terlalu panas, dan perawatan yang kurang maksimal.
Di sisi lain, pedagang dan warga lokal mengaku penghasilan mereka justru menurun ketika pengunjung enggan datang karena pungutan berlapis dan fasilitas yang tidak sesuai ekspektasi.
Sebagai kawasan dengan keunikan hayati yang kaya dan daya tarik wisata yang luar biasa, Gunung Pancar memiliki nilai besar bagi ekowisata. Namun persoalan pengelolaan, pungutan liar, dan perawatan fasilitas menjadi tantangan yang harus segera diatasi.
Tanpa pembenahan serius, kekayaan flora dan fauna serta nilai budaya kawasan ini dikhawatirkan kalah oleh buruknya pengalaman wisata yang dirasakan pengunjung.
BACA JUGA:Â Bukan Cuaca Ekstrem, Ini Penyebab Sebenarnya Banjir Bandang Sumatera
Gunung Pancar sejatinya mampu menjadi ikon wisata alam Jawa Barat—asalkan keindahannya sejalan dengan kenyamanan dan rasa aman wisatawan.






