Menjaga Alam, Menjaga Ekonomi: Kisah Sukses Dr. Nugroho dalam Membangun Keseimbangan

Dosen Inovatif Unwahas Raih Penghargaan Kalpataru 2023 untuk Dedikasi Lingkungan

SemarangDr. Ir. H. Nugroho Widiasmadi, MEng, merupakan seorang dosen inovatif dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, berhasil meraih Penghargaan Kalpataru 2023 dari Presiden RI melalui Menteri Lingkungan Hidup. Penghargaan ini menjadi cermin keberhasilan dan dedikasi Dr. Nugroho dalam membangun keseimbangan antara lingkungan dan ekonomi.

Dalam wawancara eksklusif, Dr. Nugroho membagikan pemikiran dan inspirasi di balik inovasinya. “Saya tergerak karena menyadari perubahan yang terjadi pada alam. Degradasi lingkungan begitu luar biasa, dan saya berusaha untuk menjaga serta mengembalikan kondisi lingkungan seperti dulu,” ujar Dr. Nugroho.

Biosoildam: Inovasi Melawan Ancaman Lingkungan dan Pemanasan Global

Penghargaan tersebut menandai dedikasi jangka panjang Dr. Nugroho dalam membina lingkungan dan meneliti solusi untuk mengatasi masalah pemanasan global. Inovasinya,

Biosoildam, telah membuktikan diri sebagai solusi yang efektif untuk merespons ancaman lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan sejak era revolusi hijau 1975.

Baca juga: 4 Tokoh Ini Ungkap Kekecewaannya terhadap Presiden Jokowi

Meninggalkan Pupuk Kimia: Tonggak Baru dalam Pembangunan Pangan Berkelanjutan

Dalam pernyataannya, Dr. Nugroho mengajak pemimpin bangsa untuk berani mengubah paradigma dalam pembangunan pangan. Meninggalkan penggunaan pupuk kimia dan beralih ke pupuk total organik adalah langkah penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.

Inspirasi dari Al Quran: Budidaya Alfafa untuk Keseimbangan Alam

Dr. Nugroho berbagi bahwa inspirasinya untuk menjaga alam datang dari Surat An-Naba dalam Al Quran.

“Indonesia, sebagai negara agraria, masih mengimpor bahan makanan setiap tahun. Saya melakukan riset untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan memperkuat ketahanan pangan negara,” tambahnya. Inspirasi dari Surat An-Naba dalam Al Quran

“Saya percaya, jika ditunjukkan dalam Al Quran, itu adalah petunjuk. Petunjuk tersebut saya konkritkan, karena di surat tersebut ada kata ‘alfafa,'” sambung dia.

Budidaya Alfafa, yang dimulai sejak tahun 2007 dan mengalami perjalanan panjang, menunjukkan komitmen Dr. Nugroho untuk menciptakan keseimbangan alam melalui praktik pertanian yang berkelanjutan.

Baca juga: Kolabarasi DEN RI dan Listrik Indonesia, Siap Memberikan Apresiasi Transisi Energi

“Alfafa sangat luar biasa karena mengandung mikroba rhizobium di akarnya. Rhizobium ini menjadi penggerak alam untuk menjadi lebih baik,” ungkap Dr. Nugroho.

Dengan bantuan teman-teman di UGM, ia berhasil memperbanyak rhizobium, yang mampu mengurai makanan dengan cepat.

Rhizobium Sebagai Solusi: Pengurai Tanah yang Efektif

Dengan uji coba selama 3-5 tahun, Dr. Nugroho dan timnya berhasil mengajarkan petani menggunakan Rhizobium sebagai pengurai tanah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *