Misteri Munculnya Makam di Waduk Gajah Mungkur

Wonogiri – Sebuah fenomena mengejutkan terjadi di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, dengan munculnya kompleks makam di daerah tersebut saat air waduk surut.

Mari kita simak penjelasan mengenai asal-usul dan penyebab kemunculan makam-makam ini.

Awal Mula Kemunculan Makam

Pada tahun ini, air di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri surut karena musim kemarau. Akibatnya, kompleks makam yang biasanya terendam air mulai muncul di tengah waduk.

“Ya seperti itu. Kalau kemarau muncul (makam), hujan (musim) nggak kelihatan. Mulai surut sejak Agustus sampai sekarang ini (semakin surut),” kata Camat Wuryantoro Seomardjono Fadjari.

Asal-usul Makam di Waduk Gajah Mungkur

Makam-makam yang muncul di Waduk Gajah Mungkur (WGM) adalah milik masyarakat yang tinggal di wilayah ini sebelum pembangunan waduk dimulai.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Wonogiri, Dennys Pradita, menjelaskan bahwa lokasi makam tersebut dulunya merupakan permukiman warga sebelum proyek WGM dimulai.

“Warga dipindahkan tapi makamnya tetap di situ. Makam 1970 akhir baru ditinggalkan (warga), bedhol (desa). Jadi bukan makam kuno banget sebenarnya. Kisaran 1970-an itu,” kata dia, Selasa (12/9/2023).

Baca juga: Waspada Dampak Kesehatan pada Fenomena El Nino

Sejarah Perpindahan Warga dan Makam

Pada tahun 1970-an, sekitar 41.000 warga dari 45 desa di 6 kecamatan di Wonogiri dipindahkan atau direlokasi karena pembangunan Waduk Gajah Mungkur (WGM).

Meskipun warga dipindahkan, makam-makam tersebut tetap ada di lokasi asalnya. Makam-makam yang muncul saat ini sebenarnya bukanlah makam kuno, melainkan merupakan bagian dari sejarah pemukiman yang terendam oleh waduk.

Fenomena Air Waduk yang Menyebabkan Kemunculan Makam

Penelitian menunjukkan bahwa makam-makam ini muncul dan hilang bergantung pada pasang surutnya air waduk. Ada yang terlihat di daerah pinggir waduk, sementara yang lain muncul di tengah-tengah waduk.

“Ada puluhan (lokasi makam yang muncul), yang nampak bisa dilihat dari bulannya dan saat air surut. Dulu kan ada bekas permukiman, area pertanian, sungai dan fasilitas umum. Ada puluhan desa yang tenggelam,” jelas Dennys Pradita.

Dalam musim kemarau seperti sekarang, beberapa kompleks makam bermunculan, dan kondisi ini dapat diamati di berbagai wilayah di sekitar Waduk Gajah Mungkur, termasuk Wuryantoro, Eromoko, Baturetno, dan Nguntoronadi.

Makam-makam ini adalah saksi bisu dari perpindahan warga dan pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang telah memengaruhi sejarah daerah ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *