“Semakin banyak pekerjaan yang diambil alih oleh AI, semakin berkurang pendapatan masyarakat, sementara keuntungan hanya berpusat pada segelintir perusahaan teknologi,” ujar Chiu.
Melihat dampak AI yang semakin besar, beberapa negara mulai mengambil langkah regulasi. Tiongkok, misalnya, telah menerapkan aturan bahwa gambar yang dibuat oleh AI harus diberi label sebagai hasil manipulasi digital.
Langkah ini bertujuan untuk melindungi hak cipta para kreator serta membedakan antara karya manusia dan hasil AI. Namun, masih banyak perdebatan mengenai sejauh mana regulasi ini efektif dalam menjaga keseimbangan antara inovasi dan hak seniman.
Tak Tergantikan
Meskipun AI semakin canggih, Bobby Chiu menegaskan bahwa keunikan manusia tetap menjadi faktor yang tidak bisa digantikan.
“Personal branding menjadi kunci untuk bertahan dalam persaingan dengan AI,” ungkapnya.
Saat ini, kreator konten dan influencer media sosial bahkan mulai lebih dikenal dibandingkan selebritas konvensional. Oleh karena itu, membangun kehadiran digital dan menciptakan karya yang memiliki nilai personal bisa menjadi cara agar tetap relevan di era AI.
Chiu juga menekankan bahwa kemajuan AI adalah sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
“Kita tidak bisa menghentikan perkembangan AI, tapi kita bisa beradaptasi,” katanya.
BACA JUGA:Â ILO Diminta Siapkan Regulasi Ekonomi Digital untuk Negara Anggota
Perdebatan tentang dampak AI terhadap industri kreatif kemungkinan besar akan terus berlanjut. Namun, satu hal yang pasti, kreativitas manusia tetap menjadi elemen yang tidak tergantikan. Dengan regulasi yang tepat serta inovasi yang mengedepankan keunikan individu, AI bisa menjadi peluang, bukan hanya ancaman.






