Di sisi lain, Prof. Yon mencium adanya kepentingan negara adidaya lain dalam konflik ini. China, misalnya, diprediksi tidak akan membantu secara langsung namun akan mempelajari teknologi pertahanan dan serangan Amerika Serikat sebagai bahan evaluasi.
“Perang yang panjang akan menguras sumber daya ekonomi Amerika, dan China bisa mempelajari teknologi pertahanan AS sebagai test case sebelum potensi konflik serupa bergeser ke wilayah Indo-Pasifik,” ujarnya.
Isu lain yang dibongkar adalah upaya propaganda untuk menjadikan Iran sebagai musuh regional bagi negara-negara Arab. Israel dan AS disebut berkepentingan untuk menyeret negara-negara Teluk ke dalam perang ini agar wilayah sekitar Iran terus mengalami kekacauan.
Namun, Prof. Yon menilai negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab akan berpikir sangat rasional. Mereka kini tengah fokus pada transformasi ekonomi dan pariwisata yang membutuhkan stabilitas keamanan. “Mereka tidak ingin investasi besar mereka gagal hanya karena terpancing dalam peperangan,” tambahnya.
BACA JUGA: Bupati Pekalongan yang Kena OTT KPK Itu Pernah Populer Lewat Lagu ‘Cik Cik Bum Bum’, Ini Liriknya
Pada akhirnya, Prof. Yon mengingatkan bahwa motif utama di balik invasi atau serangan Amerika Serikat jarang sekali murni karena alasan demokrasi atau kemanusiaan. “Amerika tidak pernah menyerang negara yang tidak memiliki sumber daya alam. Motifnya tetap menguasai ekonomi dan energi,” tutupnya.






