RUANGBICARA.co.id – Nilai tukar rupiah dan pasar saham domestik mengalami tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam di awal sesi perdagangan.
Pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026), rupiah tercatat berada di posisi Rp17.019 per dolar AS atau melemah sekitar 0,56 persen. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026) yang berada di level Rp16.925 per dolar AS.
BACA JUGA: Lonjakan Pemudik 2026 Mengintai, MTI Usul Pembatasan Sepeda Motor untuk Mudik
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar valuta asing. Pasar saham domestik juga mengalami pelemahan signifikan. IHSG dibuka turun sekitar 3 persen ke level 7.374,31. Berdasarkan data RTI hingga pukul 09.05 WIB, indeks bahkan sempat merosot lebih dalam sebesar 323,96 poin atau 4,27 persen ke posisi 7.261,72.
Pergerakan saham pada awal perdagangan didominasi sentimen negatif. Sebanyak 595 saham tercatat melemah, sementara hanya 36 saham yang menguat dan 79 saham stagnan. Aktivitas transaksi mencatat volume perdagangan mencapai 6,29 miliar lembar saham dengan frekuensi 283.385 kali transaksi serta nilai transaksi sebesar Rp2,97 triliun.
Meski demikian, pemerintah meminta masyarakat dan pelaku pasar untuk tidak panik menghadapi gejolak tersebut. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi kuat dan bahkan sedang berada dalam fase ekspansi.
Menurutnya, pemerintah terus menjaga stabilitas daya beli masyarakat serta momentum pertumbuhan ekonomi. Ia menilai kondisi saat ini masih jauh dari potensi krisis maupun resesi.
“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kami jaga mati-matian. Boro-boro krisis, resesi saja belum, melambat saja belum. Kita masih ekspansi dan masih akselerasi,” ujar Purbaya kepada wartawan, dikutip Selasa (10/3/2026).
Pada penutupan perdagangan sore hari, tekanan di pasar saham masih berlanjut. IHSG ditutup melemah 248,32 poin atau 3,27 persen ke posisi 7.337,37. Sementara indeks saham unggulan LQ45 juga turun 25,47 poin atau 3,28 persen ke level 750,57.






