Pemilu 2024 dan Peran Penting Gen Z dalam Politik Indonesia

Pendahuluan

Seiring berjalannya waktu, perhelatan pemilu 2024 semakin mendekat, dan momentum pesta demokrasi pada 14 Februari 2024 akan menjadi penentu arah masa depan bangsa Indonesia.

Gerakan partai politik telah menyentuh generasi Zilenial (Gen Z), bahkan beberapa calon legislatif berasal dari kalangan Gen Z, menunjukkan peningkatan pendidikan politik di kalangan muda. Namun, di tengah individualitas Gen Z dalam era disrupsi digital, perlunya kesadaran politik menjadi krusial.

Gen Z sering dianggap sebagai individu yang hidup dalam masa bodoh dan terlalu nyaman di era disrupsi digital. Meskipun demikian, Gen Z menjadi target penting dalam pemenuhan suara bagi partai politik.

Kesadaran politik di kalangan Gen Z bukan hanya relevan dalam momentum pemilu 2024, tetapi juga berkaitan erat dengan pengetahuan politik, cara kerja politik, dan dampak politik terhadap kehidupan sehari-hari.

Peran Keterlibatan Anak Muda dalam Politik

Partisipasi anak muda dalam politik memiliki implikasi besar sebagai penerus bangsa dan penentu keberhasilan negara. Menurut data KPU-RI, 52 persen dari daftar pemilih tetap (DPT) pada pemilu 2024 berasal dari kalangan anak muda, dengan 31 persen di antaranya berusia 17-30 tahun.

Politik tidak hanya berkaitan dengan perebutan kekuasaan, tetapi juga mempengaruhi kebijakan di berbagai sektor, seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan agama.

Baca juga artikel: Jihad Santri Jayakan Negeri, Literasi Memperkokoh Santri

Menolak Politik Transaksional dan Money Politik

Keterlibatan anak muda dalam politik dimulai dari pemahaman tentang politik sebagai aspek keberadaan bangsa. Gen Z memiliki peran kritis sebagai penguji bagi calon legislatif dan eksekutif terkait gagasan dan pertimbangan mereka.

Tantangan seperti politik transaksional dan money politik bukanlah hal tabu lagi di politik Indonesia. Oleh karena itu, Gen Z memiliki tanggung jawab untuk menjaga integritas politik dengan menolak money politik, baik sebagai pemilih maupun sebagai calon legislatif.

Mendorong Gagasan Positif dan Kritik Konstruktif dari Gen Z

Gen Z memiliki peran yang signifikan dalam membentuk kebijakan pemerintah. Sebagai contoh, Gen Z dari Lampung telah berhasil mempengaruhi kebijakan infrastruktur dan diakui oleh Presiden Jokowi.

Keahlian Gen Z dalam digitalisasi memungkinkan mereka untuk memberikan kontribusi positif. Saatnya Gen Z melek politik, mengajukan gagasan-gagasan konstruktif, dan memberikan pandangan terhadap kondisi politik Indonesia yang diwarnai oleh politik transaksional.

Tantangan Gen Z

Dengan dekatnya Gen Z dengan digitalisasi, mereka memiliki keunggulan dalam menyampaikan gagasan.

Lalu bagaimana Gen Z melihat kondisi politik Indonesia yang dipenuhi dengan politik transaksional? Adakah keberanian untuk menghilangkan politik transaksional dan money politik?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang mestinya untuk kita jawab dalam menentukan arah gerak politik di Indonesia yang dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan.

Penulis adalah Ridwanul Maknunah, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dan Direktur Eksekutif Poros Politik Gen Z (PorpoliZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *