Reformasi dan Kontra-Reformasi
Pada abad ke-16, tantangan terbesar bagi Kepausan datang dari Reformasi Protestan. Tokoh-tokoh seperti Martin Luther dan John Calvin mempelopori gerakan ini. Reformasi ini menentang berbagai praktik Gereja Katolik, termasuk penjualan indulgensi, dan mengkritik korupsi yang merajalela di dalam Gereja.
Sebagai respons terhadap Reformasi Protestan, Gereja Katolik meluncurkan Kontra-Reformasi, yang ditandai oleh Konsili Trente (1545-1563). Konsili ini mengesahkan berbagai reformasi doktrinal dan administratif dalam Gereja. Reformasi ini memperkuat otoritas Paus dan meluncurkan upaya memerangi penyebaran Protestanisme di Eropa.
Pada masa ini, Kepausan kembali menegaskan perannya sebagai otoritas spiritual tertinggi dalam Gereja. Namun, pengaruh politiknya di Eropa mulai berkurang. Meskipun demikian, Kepausan terus mendukung misi-misi ke luar negeri, terutama di Amerika, Afrika, dan Asia, untuk menyebarkan agama Kristen ke seluruh dunia.
Kepausan di Era Modern
Memasuki era modern, peranan Kepausan terus berubah seiring dengan perkembangan politik dan sosial di Eropa dan dunia. Pada abad ke-19, dengan terjadinya penyatuan Italia dan penurunan kekuasaan temporal Paus, Kepausan harus menyesuaikan diri dengan realitas baru. Paus tidak lagi memegang kendali politik langsung atas wilayah-wilayah tertentu.
BACA JUGA:Â Banyak Cara Mencegah Kehamilan setelah Berhubungan dengan Melakukan Ini
Namun, Paus tetap mempertahankan pengaruhnya sebagai pemimpin spiritual bagi jutaan umat Katolik di seluruh dunia. Pada abad ke-20, Paus Pius XII, Paus Yohanes XXIII, dan Paus Yohanes Paulus II memainkan peran penting dalam berbagai isu global, termasuk Perang Dunia II, gerakan hak-hak sipil, dan runtuhnya komunisme di Eropa Timur.






