Ketegangan ini memuncak ketika Sumitro terlibat dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tahun 1957, yang menentang kebijakan pusat Soekarno.
Akibatnya, ia diasingkan ke luar negeri dan menghabiskan waktu di Malaysia, tetap aktif dalam dunia akademik sebagai profesor ekonomi di berbagai universitas.
Setelah masa Orde Baru di bawah Soeharto, Sumitro diizinkan kembali ke Indonesia. Ia menjadi bagian dari tim ahli yang dikenal sebagai “Mafia Berkeley,” sekelompok ekonom yang merumuskan kebijakan ekonomi Orde Baru.
Mereka mendukung ekonomi terbuka dan liberalisasi ekonomi, yang memungkinkan pemerintah menarik investasi asing dan fokus pada stabilitas ekonomi.
Warisan dan Pengaruh
Sumitro Djojohadikusumo meninggal pada 9 Maret 2001, tetapi warisannya terus dikenang. Pemikirannya tentang modernisasi ekonomi dan kebijakan terbuka terhadap investasi asing menjadi dasar pembangunan Indonesia.
Selain itu, pengaruhnya juga terlihat dalam keluarganya, di mana anak-anaknya, termasuk Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo, melanjutkan peran penting dalam berbagai sektor di Indonesia.
BACA JUGA: Viral Istilah ‘Jam Koma’ Gen Z, Apa Bedanya dengan Amnesia?
Dengan demikian, Sumitro bukan hanya sekadar ayah dari Presiden Prabowo, tetapi juga sosok yang memberikan kontribusi signifikan dalam perjalanan ekonomi dan politik Indonesia.






