Potensi Peran Negara Asing dalam Polemik Ponpes Al-Zaytun

Jakarta – Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menyatakan dugaannya tentang adanya peran negara asing dalam polemik Pondok Pesantren Al-Zaytun. Hendropriyono berpendapat bahwa polemik yang terjadi pada Al-Zaytun bertujuan untuk menciptakan ketidakstabilan di Indonesia.

Dugaan Peran Negara Asing dalam Polemik Al-Zaytun

  • Mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono, menyatakan dugaannya tentang adanya peran negara asing dalam polemik Pondok Pesantren Al-Zaytun
  • Tujuan polemik tersebut diduga untuk menciptakan ketidakstabilan di Indonesia

 Pengalihan Pertempuran Eropa ke Asia dengan Menggunakan Artificial Intelligence

  • Hendropriyono menyampaikan bahwa negara adikuasa ingin mengalihkan pertempuran Eropa ke Asia
  • Penggunaan artificial intelligence dalam perang menjadi perhatian penting

Baca juga: Dituduh Komunis, Pimpinan Ponpes Al Zaytun Gugat Waketum MUI

“Dan di situ mereka siap-siap semua. Seperti saya sampaikan tadi, 4 angkatan sekarang sudah (ada), angkatan laut, udara darat, siber, dan siber itu nanti yang akan merupakan battle field, medan tempur, perang psikologi itu tinggal masuk,” ungkapnya.

“Jadi yang Al Zaytun pro, Al Zaytun kontra, makin luas. NII (Negara Islam Indonesia) pro, NII anti, PKI pro, terus berkembang barang yang tidak ada. Itu diadu,” sambungnya.

Selain itu, Hendropriyono juga menyebut bahwa Indonesia saat ini telah menjadi objek provokasi. Negara adikuasa menuduh Indonesia mendukung China, sehingga hal ini menimbulkan pertikaian antarnegara.

“Jadi kemungkinan ini bisa dimanfaatkan karena perang. Kita negeri yang dituduh oleh negara adikuasa bahwa pro China, padahal musuh dia China, jadi sasaran nggak kita? Itu aja, jadi sasaran juga,” tambahnya.

Hendropriyono memperingatkan bahwa perang yang menggunakan artificial intelligence ini akan membuat masyarakat sulit membedakan berita palsu (hoax) dengan berita yang benar. Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat untuk mewaspadai hal tersebut dan siap dalam menghadapi perang semacam ini.

“Tentara siber akan melepas melalui hoax simulatra yang dilepas oleh kecerdasan buatan, caranya lebih cerdas puluhan kali dari otak manusia. Dan kita akan kebingungan, sekarang aja kita udah bingung, ada hoax kita cek, ini hoax bukan, lama-lama nggak bisa cek lagi. Karena yang lain udah artificiali intelligence,” ungkap dia.

“Kita kalau sekarang bisa cek kan ya, eh ini hoax, kita cek ke sini, ini hoax. Nantinya AI ini, kamu cek di situ betul, berarti ini berita betul, padahal nggak betul. Ini kita mestinya kita harus siap-siap ke situ, bukan ribut soal beginian,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar