Yang paling krusial justru bahan baku dan energi. Tanah liat sekarang makin sulit. Regulasi tambang harus diatur dengan baik—bukan dilarang, tapi dijaga keseimbangannya dengan lingkungan. Selama ini kami ambil bahan baku secara sporadis.
Energi adalah komponen biaya terbesar. Lalu bahan baku, tenaga kerja, kontrak energi berbasis dolar. Semua itu menekan biaya produksi.
Kalau harga kami naikkan, pasar belum tentu sanggup. Itulah sebabnya sejak 1996 sampai sekarang hampir tidak ada pabrik genteng keramik besar baru yang berdiri.
Banyak masyarakat mungkin belum memahami bahwa produksi genteng keramik bukan proses sederhana. Bisa dijelaskan bagaimana kompleksitas produksinya dibanding genteng tradisional?
Satu keping genteng membutuhkan sekitar 70 jam proses pengeringan dan 17 jam pembakaran pada suhu 1.050–1.100 derajat Celsius agar menjadi keramik sempurna. Setiap tahap diperiksa ketat. Kesalahan kecil saja bisa membuat produk rusak.
Berbeda dengan genteng kampung yang dibakar di suhu 600–700 derajat Celsius. Genteng keramik harus memenuhi tiga parameter utama: water absorption (daya serap air), bending strength (kekuatan lentur), dan shrinkage (penyusutan saat dibakar). Tanah liatnya pun harus campuran dari beberapa lokasi agar standar teknis tercapai.
Ini industri teknologi tinggi dengan investasi besar dan proses panjang.
Produk Tiongkok dikenal sangat kompetitif dari sisi harga. Apakah industri genteng nasional terancam impor jika permintaan melonjak?
Menariknya, genteng itu tidak mudah diimpor. Beratnya 3–3,1 kilogram per keping. Logistik mahal. Aturan ODOL membatasi kapasitas angkut truk. Tidak ekonomis untuk dikapalkan dalam jumlah besar seperti keramik lantai atau tableware.
Justru di sini peluang industri dalam negeri. Genteng bukan produk yang gampang diserbu impor.
Rekomendasi
Jika Bapak diminta memberi rekomendasi konkret agar program gentengisasi berkelanjutan dan tidak sekadar proyek jangka pendek, apa yang harus dilakukan pemerintah?
Pertama, pemetaan bahan baku nasional. Pemerintah tahu wilayah tanah liat potensial, tinggal diintegrasikan perencanaannya.
Kedua, kebijakan energi yang kompetitif. Kita harus bisa bersaing dengan Malaysia dan Vietnam.
Ketiga, regulasi konsisten minimal 10 tahun. Investasi industri itu jangka panjang.
Keempat, penguatan klaster industri daerah seperti Kabupaten Tangerang.
Kelima, biarkan industri tumbuh natural. Kalau pasar ada dan regulasi jelas, industri akan ikut berkembang dari hulu ke hilir—termasuk petani tanah liat.
Di akhir wawancara, Elisa menegaskan bahwa industri genteng nasional pada prinsipnya siap mendukung program gentengisasi. Namun kesiapan tersebut sangat bergantung pada dukungan kebijakan yang terukur.
“Kalau market tumbuh, industri pasti ikut. Kami tidak minta murah. Jangan dimainkan. Atur baik-baik. Industri harus bertumbuh dari hulu ke hilir. Petani tanah juga harus merasakan. Kalau itu dilakukan, industri genteng Indonesia akan bertumbuh natural dan bisa dihitung secara ekonomi,” pungkasnya.
BACA JUGA: Menilik Kesiapan Industri Nasional Proyek Gentengisasi Prabowo
Dengan demikian, gentengisasi bukan sekadar proyek estetika mengganti atap seng, melainkan momentum strategis memperkuat industri nasional. Tantangannya nyata—bahan baku, energi, regulasi, dan logistik—namun peluangnya pun besar. Jika dirancang dengan cermat, program ini dapat menjadi penggerak ekonomi dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan.






