RUANGBICARA.co.id, Jakarta – Tragedi memilukan menimpa seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bocah berusia 10 tahun itu diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena.
Peristiwa ini memantik respons luas dari jajaran menteri, DPR, pemerintah daerah, hingga aktivis pendidikan yang menilai kejadian tersebut sebagai alarm keras bagi negara.
BACA JUGA: Langkah BPOM Diapresiasi Menteri PPPA
Minta Pejabat Lebih Peka
Merespon itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin meminta seluruh pejabat, baik di pusat maupun daerah, lebih peka terhadap kondisi masyarakat, terutama keluarga rentan. Ia menegaskan persoalan sederhana seperti alat tulis tidak boleh berujung pada tragedi kemanusiaan.
“Kalau memang membutuhkan bantuan alat tulis, bantuan apa pun, itu harus segera ditangkap dan disampaikan. Jangan sampai kejadian yang sangat mengharukan ini terulang lagi,” kata Cak Imin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Cak Imin juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu menyampaikan persoalan ekonomi kepada pemerintah. Menurutnya, negara harus hadir cepat ketika warganya berada dalam kesulitan, terutama yang menyangkut pendidikan anak.
Akan Selidiki Kasusnya
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti merespon akan menyelidiki kasus dugaan bunuh diri siswa SD di Kabupaten Ngada tersebut. Ia mengaku belum menerima laporan lengkap terkait peristiwa tragis itu.
“Nanti coba kita selidiki ya, saya belum tahu informasinya,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Penguatan Data
Kemudian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mersepon dnegan menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya siswa SD di NTT tersebut. Ia menilai kejadian ini harus menjadi perhatian bersama, baik pemerintah pusat maupun daerah.
“Kita harus memperkuat pendampingan dan data, agar tidak ada keluarga yang seharusnya dibantu tapi tidak terjangkau,” kata Gus Ipul.
Menurutnya, penguatan basis data sangat penting untuk menjangkau keluarga miskin dan miskin ekstrem yang membutuhkan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan. Tragedi ini, kata dia, tidak boleh dipandang sebagai peristiwa tunggal, melainkan persoalan sistemik.






