Raja Jawa Takluk dari Ratu Banten, Izinkan Kembali Tunggangi Kendaraan Kuningnya

Ketika Ratu Ajeng Ciomas bersama Pangeran Merah mengambil surat sakti dari Ratu Merah sebagai syarat menguasai Banten, tetap saja kesedihan tetap terlihat di wajahnya. Meskipun Ratu Merah menegaskan bahwa ia seharusnya menggunakan kendaraan merah hitam yang lebih sesuai. Tapi, Ratu Ajeng Ciomas belum bisa melupakan kendaraan kuning tersebut.

Bersama keluarganya, Ratu Ajeng Ciomas melakukan berbagai manuver dan serangan untuk mendapatkan kembali kendaraan kuningnya. Akhirnya, Prabu Bahlul menyerah dalam sebuah pertemuan akbar, dan mengizinkan Ratu Ajeng Ciomas kembali menunggangi kendaraan kuning kesayangannya.

Kendaraan kuning tersebut sebenarnya adalah sepeda tua peninggalan Raja Banten, yang memiliki nilai sejarah dan kenangan. Akan tetapi, peraturan kerajaan yang baru mengharuskan kendaraan itu disingkirkan karena dianggap tidak sesuai bagi seorang raja.

Dengan kekalahan yang dihadapinya, Raja Jawa dan Prabu Bahlul akhirnya mematuhi keinginan Ratu Ajeng Ciomas.

Sambil tersenyum, Ratu Ajeng Ciomas mengatakan, “Kekuasaan dan kemenangan bukanlah segalanya, Prabu. Kadang-kadang, kenangan dan kebahagiaan kecil jauh lebih berharga.”

Prabu Bahlul terdiam, menyadari kebijaksanaan Ratu Ajeng Ciomas. Ia pun dengan bangga dan penuh nostalgia kembali menunggangi kendaraan kuningnya, sementara Ratu Ajeng Ciomas tersenyum puas melihat kebahagiaan tersebut.

BACA JUGA: Pembangkangan Sang Ratu Banten yang Menolak Tunduk dari Raja Jawa: Kisah Heroik Abad 21

Cerita ini mengandung makna bahwa dalam politik, kekuasaan bisa berubah-ubah, dan apa yang dianggap kecil bisa memiliki makna besar dalam kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *