Campur Tangan Kekuasaan
Lebih jauh, Syaifullah menduga kisruh ini tidak semata persoalan internal. Ia menyinggung adanya peran pejabat intelijen negara yang ikut mengarahkan PPP agar tetap berkoalisi dengan PDIP.
Cepatnya SK pergantian kepemimpinan dari Kemenkumham menambah kecurigaan. “Saya tidak mengerti apakah karena Yasonna Laoly dari PDIP, atau karena peran Budi Gunawan. SK itu cepat sekali keluar,” katanya.
Ironisnya, menjelang Pemilu 2024, kesolidan elite PPP justru pecah. Arsul Sani dan Rommy yang semula sejalan akhirnya berseteru setelah Arsul digeser dari posisi strategis.
Perpecahan tersebut membuat kendali PPP semakin terkonsentrasi pada Mardiono. Namun, kondisi partai semakin melemah hingga akhirnya gagal melampaui ambang batas parlemen.
Ucapan Romi
Selain manuver politik, Syaifullah juga menyoroti pernyataan Rommy yang dinilai kontroversial. Salah satunya ketika ia menyebut, “Kalau bansos itu Rp400 triliun, jangankan manusia, monyet pun bisa jadi presiden.”
Bagi Syaifullah, ucapan semacam itu hanya memperburuk citra PPP di mata publik dan pemerintah.
Di akhir penjelasannya, Syaifullah mengutip pesan politik dari Jusuf Kalla: ada empat hal yang tidak boleh dilawan, yakni Tuhan, orang tua, orang berilmu, dan penguasa. Namun, PPP justru dianggap berseberangan dengan penguasa pada masa krusial Pemilu 2024.
BACA JUGA: Menjelang Muktamar X, Mardiono Panen Dukungan Mayoritas DPW se-Indonesia Termasuk Banten
“Itulah yang membuat PPP akhirnya gagal lolos ke parlemen,” pungkasnya.






