Saat Bung Karno Didebat Tan Malaka di Bayah

RUANGBICARA.co.id – Pada suatu hari yang dinanti-nantikan oleh para pegawai dan Tan Malaka, momentum bersejarah akhirnya tiba untuk menyambut kedatangan tamu agung, pemimpin besar Bung Karno dan Bung Hatta, di Bayah, Kabupaten Lebak.

Sukacita Buruh Tambang

Kedua tokoh pemimpin besar ini disambut dengan sukacita oleh para buruh yang bekerja di perusahaan tambang batubara, tempat di mana Tan Malaka menjalankan tugasnya pada bulan September 1944. Tan Malaka, sebagai anggota panitia penyambutan, hadir dalam acara tersebut dengan harapan besar dan sukacita.

Identitas Tan Malaka dan Pidato Soekarno

Bung Karno, tanpa mengetahui bahwa Tan Malaka, yang saat itu menyamar dengan nama Ilyas Hussein, berada di antara mereka, ia memulai pidatonya. dengan menyampaikan keyakinan bahwa Indonesia bersama Jepang akan mengalahkan sekutu. Tak hanya itu, Bung Karno juga meminta pekerja tambang meningkatkan produksi batu bara untuk mendukung perjuangan.

Tan Malaka yang awalnya gembira dan bangga bisa bertemu dengan Bung Karno dan Hatta, bahkan meminjam pakaian temannya agar terlihat lebih layak, merasa tidak puas dan kecewa atas pidato Soekarno tersebut.

Setelah keduanya menyampaikan pidato, sesi tanya jawab dibuka oleh moderator Sukarjo Wiryopranoto. Sayangnya, beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para pekerja dijawab dengan kurang serius dan mendapat ejekan dari moderator.

Perdebatan

Setelah itu, sesi tanya jawab dimulai. Tan Malaka, dari posisi paling belakang, mengajukan pertanyaan kritis kepada Bung Karno. Dia mengungkapkan keraguan tentang apakah kemenangan terakhir akan membawa kemerdekaan atau sebaliknya.

Baca juga: Tan Malaka: Perlunya Persatuan antara Komunisme dan Pan-Islamisme

“Kalau saya tiada salah bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan Indonesia. Artinya itu kemenangan terakhir dulu dan dibelakangnya baru kemerdekaan Indonesia? Apakah tiada lebih cepat bahwa kemerdekaan Indonesia-lah kelak yang lebih menjamin kemenangan terakhir,” tanya Tan Malaka dalam buku Badrudin, (2020 hlm 108-113).

Tan Malaka vs Soekarno

Bung Karno bangkit dari duduknya dan memberikan respons.

Soekarno menyatakan, “Tunjukkan terlebih dahulu penghargaan atas jasa kita! Kemerdekaan yang akan diberikan oleh Dai Nippon di masa depan seharusnya didasarkan pada jasa-jasa besar yang telah kita berikan.”

Tan, yang memiliki pandangan berbeda mengenai kemerdekaan, menolak pandangan Soekarno. Dia berpendapat bahwa semangat perjuangan kemerdekaan akan lebih kuat jika didasarkan pada usaha sendiri daripada janji dari pihak lain.

Menurut Tan, semangat perjuangan akan tumbuh dengan adanya hak nyata yang telah diperoleh. Dengan penetapan hari kemerdekaan Indonesia, rakyat Indonesia akan bersatu untuk melindungi dan mempertahankannya dengan segala cara.

Bung Karno lalu bangkit lagi, menyusun pakaian dan memperhatikan sekelilingnya.

“Sekalipun Dai Nippon memberikan kemerdekaan saat ini, saya (Soekarno) tidak akan menerimanya,” tegasnya.

Meskipun Tan ingin memberikan tanggapan terhadap pernyataan Soekarno, upayanya ditolak oleh seorang pengawas pekerja.

Kesimpulan

Dengan perdebatan yang sengit, Tan Malaka melihat ekspresi jengkel di wajah Bung Karno. Bagi Tan Malaka, ini mungkin pengalaman baru bagi Bung Karno, yang jarang mendapatkan tantangan terbuka. Suasana tegang dan perbedaan pendapat menciptakan momen bersejarah di Bayah, yang akan terus menjadi kenangan dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *