Menurutnya, transformasi pelayanan publik harus berbasis teknologi, karena digitalisasi menjadi elemen penting dalam meningkatkan responsivitas dan keterbukaan informasi. Otto juga mengingatkan para aparatur sipil negara (ASN) untuk selalu kembali pada esensi peran mereka sebagai pelayan publik.
“Kami ASN senantiasa harus menyadari bahwa DNA kami tidak lain adalah bagaimana melayani masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Otto menyoroti bahwa ukuran keberhasilan pelayanan publik tidak hanya diukur dari kecepatan dan efisiensi, tetapi juga dari tingkat transparansi. Ia menyebut, permasalahan utama dalam pelayanan publik adalah kurangnya keterbukaan informasi, sehingga diperlukan langkah-langkah konkret untuk memperbaikinya.
“Masalah utama pelayanan publik adalah transparansi dan ini harus kita selesaikan,” ungkapnya.






