Jurus Pamungkas
Dalam sambutannya, Dadan juga mengungkap dua prioritas besar Kementerian ESDM: ketahanan energi dan hilirisasi. Ia mengakui bahwa saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada BBM impor, sehingga perlu upaya besar untuk membalik keadaan.
“Konsumsi BBM nasional 1,6 juta barel per hari, produksi kita hanya 600 ribu barel. Artinya, lebih dari 1 juta barel harus diimpor setiap hari,” jelasnya.
Angka tersebut setara dengan USD 69 juta per hari—sebuah fakta yang membuat urgensi transisi energi tak bisa ditawar lagi.
Di tengah berbagai tantangan, Dadan menyampaikan kabar menggembirakan: produksi baterai kendaraan listrik (EV) akan dimulai September tahun depan. Bahkan, pabrik yang diresmikan baru-baru ini disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dan seluruh wilayah selatan garis khatulistiwa.
“Hilirisasi ini bukan hanya industrialisasi, tapi bagian dari transisi energi berbasis kemandirian nasional,” ujarnya.
Beranjak ke sisi personal, Dadan membagikan kisahnya menjalani kehidupan yang lebih ramah energi sejak 2016. Mulai dari memasang PLTS atap di rumah, naik motor listrik, memasak dengan kompor induksi, hingga memakai mobil listrik.
“Saya bukan ingin pamer. Tapi ini menunjukkan bahwa elektrifikasi bukan sekadar program, tapi gaya hidup,” katanya.
Menurutnya, gaya hidup ini bukan hanya soal gaya, tapi juga solusi konkret untuk mengurangi ketergantungan pada BBM, terutama di sektor transportasi dan industri.
BACA JUGA: PLN IP UBP Semarang Tampilkan Inovasi Ramah Lingkungan dan Efisiensi Tinggi di IBEA 2025
Tak berhenti di situ, Dadan mengungkap rencana besar kerja sama energi lintas negara dengan Singapura. Skema ini mencakup perdagangan listrik antarnegara (cross-border electricity trading), penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), serta pengembangan industri berkelanjutan.
Melalui skema ini, Indonesia akan mengekspor listrik bersih dengan harga kompetitif, tapi tetap memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).






